Evaluasi Bangunan Akibat Banjir

Posted: 9 Januari 2012 in 1, ARTIKEL, PUBLIKASI

Artikel telah diterbitkan di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 8 Januari 2012, Halaman GAZEBO.

Setiap musim penghujan tiba, di beberapa wilayah seringkali masih masih terjadi bencana banjir. Bahkan, sudah menjadi bencana musiman yang selalu terulang setiap tahun. Walaupun sudah dilakukan berbagai upaya untuk mengantisipasinya, seperti dengan perbaikan saluran drainase, pembuatan sumur resapan, pelebaran dan pengerukan lumpur atau endapan sungai, tapi karena curah hujan yang terjadi cukup besar atau tanggul yang sudah tidak mampu menahan derasnya arus, maka akan menimbulkan banjir.

Banjir ini akan sangat mengganggu aktifitas apabila melanda pada suatu daerah pemukiman dan perkantoran, pasar, sekolah atau fasilitas umum lainnya. Kegiatan sehari-hari menjadi terhenti. Apalagi bila banjir ini tidak hanya menghentikan aktifitas, tapi juga mengakibatkan bangunan dan infrastuktur menjadi rusak atau tidak dapat berfungsi kembali seperti semula. Air banjir yang mengenai bangunan tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi kualitas, keamanan dan kenyamanan bangunan.

Oleh karenanya, penting untuk dievaluasi suatu bangunan yang terlanda banjir,  baik saat terjadi banjir maupun setelah banjir. Pada, tulisan ini akan diuraikan evaluasi bangunan rumah atau gedung setelah terlanda banjir. Evaluasi ini dimaksudkan agar bangunan rumah/gedung tersebut dapat langsung difungsikan kembali setelah banjir atau diperlukan perbaikan atau perkuatan pada elemen konstruksinya atau utilitasnya seperti jaringan listrik dan perpipaan. Atau paling tidak konstruksi dan utilitas bangunan dapat terlindungi apabila banjir melanda lagi di masa mendatang.

Evaluasi bangunan rumah/gedung yang terlanda banjir  dapat dilakukan umumnya dengan mengkaji tingkat resiko banjir dan evaluasi antisipasi masuknya air banjir ke dalam bangunan, evaluasi kekuatan material dan struktur yang digunakan, jaringan air bersih dan air kotor, instalasi listrik, dan instalasi peralatan elektronik.

Langkah evaluasi pertama kali yang dapat dilakukan adalah mengetahui tingkat resiko terjadinya banjir di lingkungan bangunan rumah/gedung. Lokasi rumah/gedung di daerah bantaran sungai jelas mempunyai tingkat resiko terlanda banjir yang cukup besar, bahkan pada rumah/gedung di sekitar tanggul sungai juga mempunyai tingkat resiko banjir yang tidak kecil. Sedapat mungkin harus dihindari mendirikan bangunan rumah/gedung di daerah bantaran dan tanggul sungai. Karena air banjir yang melanda disamping mempunyai volume yang sangat besar juga mempunyai kecepatan aliran banjir yang tinggi. Bahkan bangunan rumah/gedung beresiko hancur atau hanyut akibat terjangan banjir ini.

Berikutnya dapat dilakukan evaluasi penyebab masuknya air banjir ke areal sekitar dan dalam  bangunan rumah/gedung. Air banjir di sekitar bangunan dapat masuk ke dalam bangunan dapat melalui beberapa cara yakni melalui jaringan air kotor atau melalui bagian lubang dari banguan rumah/gedung, seperti pintu dan jendela, lubang atau elevasi dalam bangunan yang lebih rendah dari elevasi di sekitar bangunan. Sehingga, untuk mengantisipasi banyaknya air banjir yang masuk ke dalam rumah, bisa dilakukan dengan pembendungan pada tempat-tempat yang memungkinkan air banjir masuk. Pembendungan ini dapat dilakukan juga secara permanen setelah banjir surut, sehingga apabila terjadi ‘kiriman’ air banjir di masa mendatang dapat langsung dibendung.

Evaluasi yang tidak kalah pentingnya adalah evalusi material dan konstruksi bangungan rumah/gedung. Hal ini menyangkut keamanan dan kenyamanan bangunan rumah/gedung, apabila bangunan tersebut difungsikan kembali setelah terlanda banjir. Karena beberapa material bangunan akan mengalami pengurangan (degradasi) kekuatan akibat terkena dan terendam air banjir. Bahkan, kondisi struktur bangunan secara keseluruhan akan mengalami perubahan akibat hantaman kecepatan aliran air banjir.

Material dari kayu atau bambu akan mudah terjadi kembang susut dan pelapukan akibat kadar air yang dikandungnya. Oleh, karenannya air banjir yang mengenai material bamboo atau kayu harus segera dikeringkan agar tidak terjadi pengembangan dan pelapukan. Air banjir yang terserap dalam material bamboo atau kayu dapat juga sebagai sarang bakteri dan serangga yang tidak baik untuk kesehatan. Sedangkan pada material baja atau beton biasanya mempunyai serapan air yang sangat kecil, namun demikian pada baja biasanya dapat menimbulkan karat pada permukaan apabila dalam kondisi lembab setelah terjadi banjir. Pada material beton bertulang, apabila terjadi retakan, maka kemungkinan besar air banjir akan masuk dan dapat pula menyebabkan karat/korosi pada baja tulangannya. Untuk itu, setelah kering baja harus segera dilapisi dengan cat anti karat dan beton bertulang yang mengalami retak hendaknya segera di tambal.

Evaluasi konstruksi bangunan rumah/gedung secara menyeluruh juga harus dilakukan. Apakah struktur pondasi, kolom, dinding dan sebagainya mengalami kerusakan, perubahan atau terjadi ketidakstabilan. Biasanya, banjir yang melanda banyak mempengaruhi konstruksi pondasi dan dinding yang retak/rusak. Apabila pondasi dan dinding mengalami pergeseran atau retakan maka harus segera dilakukan perbaikan dan perkuatan. Apabila dirasa kerusakannya ini mengkhawatirkan, maka dapat meminta seorang ahli struktur untuk melakukan evaluasi untuk dapat dilakukan perbaikan dan perkuatan yang sesuai.

Evaluasi terakhir yang dapat dilakukan adalah evaluasi pada jaringan listrik dan peralatan elektronika, terutama pada jaringan yang terletak di bagian bawah. Jaringan yang masih terkena air akan sangat berbahaya apabila terjadi arus pendek atau konsleiting, yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran.

Sehingga, apabila evaluasi bangunan rumah/gedung setelah terlanda banjir ini dapat dilakukan dengan baik dan benar, maka bangunan rumah/gedung tersebut dapat digunakan kembali dengan aman dan nyaman, serta terjadinya banjir di masa mendatang dapat diantisipasi.

Selamat Tahun Baru 2012

Posted: 1 Januari 2012 in 1

Selamat Tahun Baru 2012

dengan Semangat baru yang lebih Baik

MEMILIH BAHAN CAMPURAN BETON

Posted: 19 Desember 2011 in ARTIKEL, PUBLIKASI

Artikel ini telah diterbitkan Harian JOGLOSEMAR, Minggu, 18 Desember 2011.

MEMILIH BAHAN CAMPURAN BETON

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

 

Pemilihan bahan (material) bangunan yang berkualitas merupakan salah satu hal yang penting diperhatikan dalam proses mendirikan suatu bangunan, selain faktor perencanaan, pelaksanaan dan metode kerjanya. Pengetahuan akan sifat-sifat dan karakteristik bahan bangunan, yang akan digunakan sebagai elemen struktur dan non struktur, akan ikut menentukan kualitas bangunan yang didirikan. Misalkan, dalam membuat campuran beton, sebelum merancang komposisi campuran maka sebelumnya harus diuji terlebih dahulu karakteristik pasir dan kerikilnya, sehingga nantinya diperoleh mutu beton seperti yang direncanakan.

Untuk mengetahui kualitas dan karakteristik bahan bangunan  dapat dilakukan dengan pengamatan visual, pengujian langsung di lapangan atau pengujian di laboratorium. Pengamatan visual dilakukan pada bahan-bahan bangunan yang secara visual sudah dapat diketahuai tingkat kualitas, misalkan berdasarkan warna permukaan, kebersihan atau kondisi kering dan basah. Sedangkan pengujian di lapangan dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan uji langsung pada bahan bangunan tersebut atau sampel (benda uji) yang dapat diuji di lapangan. Apabila memerlukan pengujian bahan bangunan di laboratorium, maka dapat dilakukan dengan mengambil beberapa sampel atau benda uji sesuai dengan kondisi peralatan di laboratorium.

Oleh masyarakat, beton merupakan salah satu material yang banyak digunakan untuk mendirikan bangunan, baik sebagai struktur beton, beton bertulang atau beton komposit. Kekuatan tekan beton sangat dipengaruhi oleh material penyusunnya. Oleh karenannya, sangat penting untuk diketahui sifat dan karakteristik material penyusunnya tersebut.

Beton merupakan bahan bangunan yang tersusun atas material pasir (agregat halus), kerikil (agregat kasar), semen dan air. Kualitas dan karakteristik beton akan sangat dipengaruhi oleh material penyusunnya tersebut. Perencanaan campuran beton akan menentukan kuat tekan beton, kemudahan pengerjaan dan besarnya rangkak dan susut beton.

Campuran air dan semen membentuk gel/pasta yang berfungsi mengikat agregat pasir dan kerikil. Terdapat beberapa jenis semen portland yang dapat digunakan sesuai dengan karakteristik beton yang akan dihasilkan. Dari semen tipe I (normal) sampai dengan semen tipe V yang lebih tahan terhadap serangan sulfat.

Di pasaran umumnya banyak beredar semen portland tipe I (normal/PC) yang dapat umum digunakkan. Bahkan, sekarang banyak juga beredar jenis semen portland pozzolan (PPC) dimana sudah ditambahkan pozzolan, yang berfungsi meningkatkan kuat tekan beton tapi dengan kuat tekan awal yang rendah. Sehingga penggunaan PPC ini membutuhkan waktu pengerasan di awal yang lebih lama dibanding menggunakan semen tipe I (normal).

Sebenarnya agregat yang dapat digunakan dalam campuran beton dapat beruapa agregat dari batuan alami dan buatan (artificial). Tapi, umumnya masyarakat saat ini masih dominan menggunakan agregat alami, karena cadangan batuan alami yang masih melimpah. Menurut standar ASTM, agregat halus (pasir) yang akan digunakan dalam campuran beton haruslah mempunyai ukuran butir lebih kecil dari 4,75 mm, dan agregat kasarnya (kerikil) mempunyai ukuran butir lebih besar 4,75 mm sampai 40 mm. Gradasi atau ukuran butir dari agregat yang digunakan haruslah bervariasi atau tidak seragam. Karena kuat tekan beton sangat dipengaruhi oleh kepadatan dari susunan agregat yang diikat oleh pasta semen tersebut. Gradasi agregat yang bervariasi akan menyebabkan meminimalisir rongga dan pori pada beton karena agregat yang lebih kecil akan mengisi rongga-rongga di antar agregat yang lebih besar. Agregat yang bulat dan kasar akan memberikan tingkat kepadatan yang lebih baik dibandingkan agregat yang pipih dan panjang. Gradasi agregat dapat diketahui dengan melakukan uji lolos ayakan atau saringan.

Disamping itu, agregat harus mempunyai kandungan lumpur, lempung dan senyawa organik yang rendah, terutama untuk agregat halus/pasir. Kandungan lumpur dan lempung yang banyak akan mengurangan ikatan pasta semen pada agregat, sedangkan senyawa organik seperti sisa tanaman, humus, zat-zat asam, akan mengganggu proses hidrasi semen dengan air. Kondisi demikian tentunya akan mengurangi kekuatan tekan beton.

Secara visual, pasir yang baik adalah pasir dengan warna kehitaman. Pasir yang berwarna coklat atau lembut biasanya mempunyai kadungan lumpur yang banyak. Atau dengan pengujian di laboratorium dapat diketahui secara pasti kandungan lumpur dan zat-zat organik. Disarankan, sebelum menggunakan agregat halus/pasir ini, dilakukan ‘pencucian’ terlebih dahulu, dengan cara menyiram dengan air agar kandungan lumpurnya larut/hilang.

Penyiraman dengan air ini dapat juga dilakukan apabila agregat terlalu kering, sehingga dapat diperoleh agregat dengan kering permukaan (saturated surface dry), yang diharapkan tidak akan terjadi penyerapan air yang berlebihan oleh agregat, karena mestinya air digunakan untuk proses hidrasi dengan semen.

Sedangkan air yang digunakan hendaklah air yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan air yang tercemar oleh bahan-bahan kimia buangan rumah tangga atau pabrik, air berlumpur atau air kotor dengan kandungan zat organik tinggi. Banyaknya air yang digunakan harus disesuaikan dengan kebutuhan reaksi proses hidrasi dan rencana mutu beton yang direncanakan. Biasanya dinyatakan dalam nilai faktor air semen (fas). Jumlah air yang berlebihan atau kurang tentu akan mengurangi kuat tekan beton yang dibuAt.

Sebelum membuat campuran beton, bahan-bahan penyusun beton haruslah dipersiapkan dengan baik sesuai dengan perhitungan rancangan campuran beton dan mutu/kuat tekan beton yang diharapkan. Pengadukan beton hendaklah merata agar dapat diperoleh campuran beton yang homogen dan apabila diaduk manual hendaklah pada tempat yang bersih dari tanah/kotoran/ sampah.***

Fondasi Di Atas Tanah Lempung

Posted: 11 Desember 2011 in ARTIKEL, PUBLIKASI

Tulisan telah dimuat di Harian Joglosemar, Minggu 11 Desember 2011, Halaman GAZEBO.

PONDASI DI ATAS TANAH LEMPUNG

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

Salah satu penyebab timbulnya retakan pada bangunan, bahkan runtuhnya suatu bangunan adalah ketidak-stabilan pondasi. Hal ini bisa disebabkan oleh perencanaan struktur pondasi yang salah atau pondasi yang dibangun pada kondisi tanah yang tidak stabil atau tanah yang selalu bergerak.

Kondisi demikian masih penulis jumpai di beberapa tempat, diantaranya di desa Toriyo, Bendosari Sukoharjo, dimana setiap didirikan bangunan, terutama bangunan dengan struktur beton bertulang dan tembok bata, selalu terjadi retakan pada dinding, balok dan lantai setelah pada jangka waktu tertentu. Setelah dikaji, memang retakan tersebut terjadi karena kondisi pondasi yang tidak stabil. Terjadi penurunan dan pergerakan pondasi yang melebihi dari yang disyaratkan, serta besarnya tidak merata pada seluruh pondasi. Bahkan beberapa pondasi batu kali terlihat miring, menunggu proses keruntuhannya. Jenis tanahnya ternyata tanah lempung, atau terkadang masyarakat menyebutnya dengan tanah hitam, yang mempunyai nilai kembang susut yang cukup besar.

Sehingga, walaupun struktur pondasi dan bangunan di atasnya sudah direncanakan cukup kuat, tapi kalau didirikan di atas tanah yang tidak stabil, maka struktur bangunan tersebut akan ikut menjadi tidak stabil.

Tanah hitam/lempung

Pondasi adalah struktur bawah bangunan yang berfungsi menyalurkan beban-beban atau berat bangunan di atasnya ke dalam tanah. Oleh karenanya, perencanaan pondasi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat tanah yang akan mendukungnya. Disamping, tanah tersebut mampu menahan beban yang disalurkan pondasi, tanah juga harus mempunyai sifat stabilitas yang baik atau perbedaan kembang susut yang rendah.

Jenis tanah lempung atau tanah hitam mempunyai nilai kembang susut yang cukup besar. Pada musim penghujan, tanah lempung akan mengembang cukup besar, dan pada musim kemarau/kering tanah lempung akan menyusut yang cukup besar pula. Sehingga dapat dikatakan mempunyai pergerakan yang besar. Kestabilannya dalam mendukung bangunan di atasnya menjadi jauh berkurang. Apalagi bila pergerakan dan penurunan bangunan ini mempunyai tidak merata pada seluruh bangunan dan pondasi, maka akan berakibat pada timbulnya retakan-retakan dan patahan pada konstruksi betonnya atau dinding batanya, karena beton maupun dinding bata akan mudah sekali retak atau patah apabila menerima beban tarik. Walaupun, retakan-retakan atau patahan tersebut diperbaiki atau ditambal, maka apabila terjadi kembang susut lagi tentunya akan berakibat timbulnya retakan dan patahan kembali.

Tanah lempung mempunyai sifat yang khas yaitu kohesifitas tinggi, dalam keadaan kering bersifat keras, dan jika basah akan bersifat lunak plastis,, mengembang dan menyusut dengan cepat. Oleh karenanya kestabilannya volumenya kecil karena pengaruh air.

Untuk mengantisipasi ketidakstabilan pondasi di atas tanah lempung ini, sebaiknya sebelum membuat pondasi, terlebih dahulu tanah lempung tersebut distabilisasi. Hal ini dapat dilakukan diantaranya dengan mengganti lapisan tanah lempung dengan tanah dengan stabilitas kembang susut yang baik, memasang cerucuk/tiang pancang mini, atau membuat pondasi sumuran.

Penggantian lapisan tanah lempung dengan tanah dengan stabilitas baik dapat dilakukan apabila lapisan tanah lempungnya tidak terlalu dalam sehingga tidak membutuhkan penggalian dan penimbunan yang terlalu banyak. Tanah yang dapat digunakan untuk mengganti tanah lempung misalnya tanah padas, tanah yang dicampur kapur, semen, belerang, agar tidak terjadi kembang susut yang besar. Stabilisasi ini akan berakibat nilai indeks plastisitasnya menjadi rendah, dimana terjadi pengurangan batas cair dan peningkatan batas plastis.

Cara lainnya adalah dengan memberikan cerucuk atau batang-batang bamboo atau kayu yang ditancapkan pada tanah lempung sampai ke tanah keras atau tanah dengan stabilitas yang baik. Penancapan ini dapat dilakukan manual dengan pukulan tangan. Cerucuk ini dimaksudkan untuk menopang pondasi dan menyalurkan beban-beban bangunan sampai ke tanah keras. Disamping itu, penggunaan cerucuk akan mengurangi pengaruh kembang susut yang besar pada pondasi. Pondasi menjadi stabil, tidak mengalami penurunan atau perpindahan yang melebihi yang disayaratkan. Cerucuk ini dapat ditancapkan sesuai dengan lebar pondasi dengan jarak antar tiang cerucuk ini berkisar 30 – 50 cm.

Apabila kesulitan dalam menancapkan batang bamboo atau kayu, dapat digunakan pile-pile beton bertulang ukuran kecil (minipile) yang dapat ditancapkan menggunakan mesin atau dilakukan pengeboran terlebih dahulu bila memungkinkan. Tentunya jumlah yang dibutuhkan disesuaikan dengan kebutuhan beban yang harus dipikul melalui pondasi.

Selain itu, dapat juga digunakan pondasi sumuran, dimana tanah lempung digali sampai pada kondisi tanah yang baik dan daya dukungnya sesuai, kemudian dimasukkan langsung beton siklop atau dapat pula dimasukkan terlebih dahulu buis beton silinder untuk menahan dinding tanah lempungnya, kemudian dimasukkan beton siklop.

Sehingga, sebenarnya “suksesnya” suatu pondasi merupakan awal dari “suksesnya” bangunan di atasnya. Sekuat apapun struktur atas bangunan direncanakan, namun bila pondasi (struktur bawah) bangunan tidak didesain dengan baik sesuai dengan kondisi tanahnya, maka akan sia-sialah perencanaan struktur atas-nya.***

Mengenal Retakan Pada Bangunan

Posted: 11 Desember 2011 in ARTIKEL, PUBLIKASI

Tulisan telah dimuat di Harian Joglosemar, Minggu 4 Desember 2011, Halaman GAZEBO.

MENGENAL RETAKAN PADA BANGUNAN

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

 

Sering masih kita jumpai seorang pemilik bangunan rumah tinggal atau gedung dari konstruksi beton bertulang dan tembok bata yang mengeluh bahwa rumah atau gedung yang dibangunnya mengalami retak-retak setelah selesai dibangun atau beberapa waktu setelah bangunan difungsikan. Kondisi demikian tentunya akan membuat penghuni rumah atau gedung dengan segala aktifitasnya menjadi terganggu dan tidak nyaman. Walaupun belum sampai kondisi runtuh, namun kekhawatiran akan runtuhnya bangunan menjadi suatu keniscayaan yang mungkin saja bakal terjadi.

Namun demikian, agar kekhawatiran akibat timbulnya retakan pada rumah atau bangunan tidak terlalu berlebihan dan proporsional, maka perlu untuk mengetahui tingkat retakan yang terjadi, dari retak dengan lebar kecil, yang biasa disebut retak rambut, hingga retak dengan lebar yang besar, dan segera dicarikan solusi untuk mengatasi retakan tersebut.

Umumnya retakan pada bangunan dibedakan menjadi dua yakni retakan non-struktur (non-konstruksi) dan retakan struktur (konstruksi). Retakan non-struktur terjadi pada bagian-bagian bangunan yang bukan merupakan struktur utama bangunan untuk menahan beban, seperti dinding atau tembok, lantai, langit-langit dan sebagainya. Sedangkan, sedangkan retakan struktur adalah retakan pada bagian-bagian struktur utama yang menyalurkan beban dari konstruksi atap, pelat lantai, balok, kolom sampai ke pondasi.

Retakan yang terjadi pada struktur bangunan biasanya dapat berakibat menimbulkan retakan pada bagian non-struktur, sedangka retakan non-struktur belum tentu mengakibatkan retakan pada struktur. Seperti, retakan pada balok – apakah hanya retakan pada spesi/ plesterannya saja atau memang struktur baloknya yang retak. Sehingga perlu diperhatikan apabila menjumpai retakan pada bangunan, apakah masuk salah satu jenis retakan tersebut atau kedua-duanya. Retakan pada struktur beton bertulang juga akan berakibat terjadinya karat/korosi pada tulangan, yang berarti akan mengurangi kekuatan tulangan tersebut. Apabila kesulitan menentukannya maka sebaiknya dikonsultasikan kepada seorang ahli struktur/konstruksi sehingga penanganannya akan sesuai dengan kondisi retakan.

Retakan pada bangunan sebenarnya banyak yang menjadi penyebabnya, seperti penggunaan material bangunan yang tidak berkualitas atau tidak sesuai standar mutu, kesalahan metode pengerjaan atau pelaksanaan, akibat terjadinya gempa, kesalahan fungsi dan pemanfaatan bangunan, pondasi yang tidak sesuai dengan kondisi tanah, akibat terjadinya kebakaran dan sebagainya.

Penggunaan material atau bahan bangunan yang tidak sesuai standar mutu yang disyaratkan dalam perencanaan tentu akan berakibat pada berkurangnya  kapasitas dan kemampuannya, apalagi bila digunakan pada bagian konstruksi utama yang menahan beban langsung. Misalnya, campuran  beton yang keliru, agregat yang jelek dan pengadukan serta perawatan setelah dicor  yang asal-asalan jelas akan mengurangi mutu beton, akibatnya setelah beban bekerja karena kapasitasnya tak sesuai dengan beban yang dipikul maka akan terjadi retakan. Tentunya, retakan yang tidak segera diatasi pada beton bertulang  dapat menyebabkan karat/korosi  pada tulangan bahkan kegagalan struktur.

Campuran spesi atau plesteran dinding yang tidak pas juga bisa menyebabkan dinding mengalami retak rambut atau plesteran yang tidak menempel  sempurna pada pasangan bata. Apalagi bila cat dinding yang digunakan tidak tidak mempunyai elastisitas yang baik, sehingga retak-retak rambut ini akan sangat kelihatan.

Retakan akibat kesalahan metode atau pelaksanaan dapat terjadi misalnya apabila pelepasan bekisting beton yang tidak sesuai umur mutu beton (biasanya untuk beton normal pada umur 28 hari), sehingga menyebabkan mutu beton belum mencapai yang diharapkan. Perawatan beton setelah dicor yang tidak baik, seperti pada pelat lantai yang harus disiram air agar tidak terjadi perbedaan suhu yang besar antari di dalam dan di luar lapsan pelat beton. Pemasangan penutup lantai di atas pelat lantai yang tidak menggunakan lapisan pasir atau pemasangan plesteran tembok yang tidak terlebih dahulu membasahi pasangan batanya. Atau urugan tanah yang asal-asalan juga dapat menyebabkan lantai menjadi retak-retak karena pemadatan yang tidak sama.

Kesalahan fungsi atau pemanfaatan bangunan juga bisa menyebabkan retakan pada bangunan, terutama retak struktur apabila fungsi tersebut menyebabkan beban yang melebihi dari beban yang direncanakan. Terjadinya kebakaran, dengan suhu panas yang ditimbulkannya, juga akan menyebabkan penurunan kekuatan struktur dan juga retakan. Retakan yang timbul karena terjadinya perbedaan tegangan yang cukup besar.

Kesalahan dalam menentukan pondasi yang tepat disesuaikan dengan kondisi tanah juga akan berpengaruh pada terjadinya retakan pada bagian bangunan struktur dan non struktur. Apabila pondasi mengalami penurunan yang tidak sama akan menyebabkan ketidakstabilan pada struktur yang akan menyebabkan timbulnya tegangan-tegangan yang tidak diharapkan dan dapat menimbulkan retakan-retakan. Kondisi kembang susut tanah yang besar, biasanya tanah lempung atau tanah hitam, apabila tidak diantisipasi dengan baik akan menimbulkan pergerakan dan penurunan pondasi yang cukup besar sehingga juga dapat menyebabkan retakan. Apalagi untuk lantai bawah, bisa menyebabkan retak dan pecah pada penutup lantainya (tegel/keramik).

Yang penting dikenali juga adalah retakan yang disebabkan karena bangunan tersebut menerima beban gempa yang relatif kuat.  Bila bangunan tidak sampai runtuh, maka perlu dilihat apakah menyebabkan retakan pada bagian non struktur dan  bagian struktur. Karena ketahanan bangunan untuk menerima gempa sangat bergantung sekali pada perencanaan. Bagaimana detail penulangan pada sambungan kolom dan baloknya, penggunaan stek-stek tulangan pada tembok, kekakuan struktur atau penggunaan redaman dan isolator dasar yang dapat mengurangi getaran gempa yang masuk ke struktur bangunan.

Oleh karena itu, ibarat seorang dokter yang akan mengobati pasiennya yang perlu mendiagnosa jenis penyakitnya, pada bangunan pun untuk melakukan perbaikan atau perkuatan pada struktur yang mengalami retakan perlu untuk didiagnosa terlebih dahulu apa yang menyebabkan terjadinya retakan, bagaimana retakan tersebut terjadi dan dampak retakan tersebut pada bangunan secara keseluruhan. Sehingga, untuk ‘menyembuhkan’ retakan harus melalui ‘diagnosa’ yang baik penyebab retakan tersebut.***

Latihan Matriks Balok Silang

Posted: 11 Desember 2011 in KULIAH

Soal latihan Analisis Struktur Metode Matriks dapat didownload di Halaman Kuliah. Dikumpul paling lambat Kamis, 15 Desember 2011, melalui email.