Menilik Kualitas Bangunan (2-habis)

5. Yang perlu diperhatikan pada saat pelaksanaan proyek konstruksi supaya sesuai dengan standar kelayakan bangunan.

  • Pelaksanaan harus mengerti benar jenis pekerjaan apa yang akan dilaksanakannya. Apakah  terdapat jenis pekerjaan spesifik dan metode pelaksanaan yang harus lebih dicermati. Misalkan bangunan gedung yang fasilitas air bersihnya menggunakan tandon air yang dibuat daribeton, maka dalam pelaksanaannya harus dicermati agar betonnya benar-benar kedap air, tidak akan terjadi kebocoran, dan sebagainya.
  • Pemilihan material dan bahan sesuai mutu yang direncanakan
  • Dan sumber daya manusia yang disyaratkan dalam suatu jenis pekerjaan.

6. Proses pengujian bangunan :

Harapannya, suatu bangunan (pasca-konstruksi) direncanakan untuk dapat berfung-si selama masa layan tertentu, bahkan selama-lamanya.

Proses perencanaan dan pelaksanaan harus dilakukan dengan baik dan cermat, baik struktur maupun non-strukturnya.

Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan :

                        Pemeliharaan — Perbaikan — Perkuatan

                        (Maintenance) –                     (Retrofitting) — (Strengtening)

  • Pemeliharaan : Memungkinkan struktur tetap berfungsi sesuai rencana dan me- menuhi kinerja standar operasional.

Bangunan rumah tinggal tidak begitu kompleks

Bangunan untuk mesin, gudang — memperhitungkan getaran/beban kejut (perlu inspeksi secara berkala).

  • Perbaikan : Mengembalikan fungsi dan kinerja struktur seperti semula — struktur yang telah rusak atau mengalami kerusakan.

Struktur yang retak, berkarat atau bekas terbakar.

  • Perkuatan : Meningkatkan kekuatan/kekuatan dan kstabilan struktur yang sudah ada.

Struktur bisa saja tidak rusak (karena alih fungsi bangunan).

Perlu re-desain.

            Dapat berupa gabungan perbaikan dan perkuatan.

 7. Langkah penanganan untuk bangunan yang rusak :

Kalau boleh diibaratkan, bangunan layaknya manusia. Bangunan yang rusak pun la- yaknya orang yang sedang sakit, sehingga diperlukan usaha-usaha untuk ‘mengoba-ti’ bangunan yang rusak tersebut.

Kajian-kajian yang dapat dilakukan untuk mendiagnosa dan mengobati bangunan     yang rusak, yaitu :

  • Kajian kerusakan, yang terdiri atas :

- Pengamatan lapangan : informasi lokasi kerusakan, jenis kerusakan dan kondisi struktur.

   Tindakan : sesuai tingkat bahaya dan upaya penyelamatan (isolasi, evakuasi,   perkuatan sementara dsb.) — juga untuk bangunan yang rentan thd rayap.

- Data/Informasi struktur — gambar rencana dan metode/dokumen pelaksanaan — termasuk pada masa layan.

- Pengujian struktur : dapat berupa pengujian merusak (destructive test) atau     tak merusak (nondestructive test). — informasi : lebar retak, kondisi beton, potensi  korosi baja, kuat tekan beton, modulus elastisitas beton, daya dukung struk- tur.

- Diagnosa penyebab kerusakan : diagnosa yang tidak tepat akan sangat me-  ngurangi efektifitas upaya perbaikan/perkuatan, bahkan dapat memperburuk    struktur.

   Contoh : Dalam menyikapi kebocoran air pada suatu lantai — perlu kajian yang cermat, apakah hanya cukup mengganti pipa yang bocor atau juga me- lakukan perbaikan pada pelat (yang ketahuan retak karena ada air      yang mengalir.

  • Kajian Struktural, yang terdiri atas :

- Identifikasi kerusakan struktur — kajian lebih jelas terhadap bahaya keruntuh-an struktur.

- Evaluasi kinerja struktur existing — kemampuan sisa, kekakuan dan ketahanan  struktur. Yang dijelaskan kepada pemilik bangunan.

- Usulan alternatif teknis — dari kajian teknis visual di lapangan dan evaluasi kinerja — diusulkan alternatif teknis : jenis material dan metode pelaksanaan.

  • Kajian Ekonomis, berdasarkan usulan alternatif teknis — penggantian total, penggantian sebagian dan perbaikan, dan perkuatan.
  • Kajian aspek estetika, cara pelaksanaan dan sebagainya.

 

8. Pondasi:

Suksesnya suatu bangunan — juga karena sukses pondasinya” – Pondasi merupakan dasar dari bangunan untuk berpijaknya struktur bangunan atas. Sehingga adaungkapan dari pakar pondasi Gouw Tjie Liong, bahwa terkadang pondasi–karena le taknya di bawah dan tidak kelihatan–dianaktirikan, tapi ingat pembalasan si anak tiri akibat tidak diperhatikan bisa jadi sangat dahsyat dan memalukan.

9. Desain pondasi yang baik akan sangat memperhatikan kondisi tanahnya. Kestabilan struktur di atasnya bergantung pada kstabilan tanah dasarnya, baik untuk pondasi    dangkal maupun dalam.

Syarat :

- Pondasi/struktur ditempatkan pada tempat yang stabil, aman dari keruntuhan.

- Pondasi tidak boleh mengalami penurunan atau beda penurunan yang dapt menyebabkan kerusakan struktur di atasnya.

Pemilihan jenis pondasi sangat bergantung pada jenis tanahnya — diperlukan pengujian data tanah dan penyelidikan tanah (test sondir dsb.). Akan diketahui data daya dukung ujung dan lekatan tanah pada kedalaman tertentu, jenis tanah, tinggi muka air.

 9. Bangunan yang seringkali terendam banjir :

  • Bangunan kayu/bambu : lapuk, kropos, berkarat.
  • Beton, lebih tahan thd. rendaman air, kecuali ada retakan yang dapat menyebab- kan terjadinya karat pada tulangan — tembok dapat mengelupas.

 

10. Bangunan/rumah yang pernah terbakar :

  • Untuk struktur kayu atau baja — kerusakan total — harus dilakukan pergantian to- tal.
  • Pada beton bertulang — penurunan kuat tekan, modulus elastisitas, kuat lekat ba- ja beton, serta ekspansi longintudinal dan radial dari tulangan.
About these ads

2 pemikiran pada “Menilik Kualitas Bangunan (2-habis)

Komentar ditutup.