Fondasi Di Atas Tanah Lempung

Tulisan telah dimuat di Harian Joglosemar, Minggu 11 Desember 2011, Halaman GAZEBO.

PONDASI DI ATAS TANAH LEMPUNG

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

Salah satu penyebab timbulnya retakan pada bangunan, bahkan runtuhnya suatu bangunan adalah ketidak-stabilan pondasi. Hal ini bisa disebabkan oleh perencanaan struktur pondasi yang salah atau pondasi yang dibangun pada kondisi tanah yang tidak stabil atau tanah yang selalu bergerak.

Kondisi demikian masih penulis jumpai di beberapa tempat, diantaranya di desa Toriyo, Bendosari Sukoharjo, dimana setiap didirikan bangunan, terutama bangunan dengan struktur beton bertulang dan tembok bata, selalu terjadi retakan pada dinding, balok dan lantai setelah pada jangka waktu tertentu. Setelah dikaji, memang retakan tersebut terjadi karena kondisi pondasi yang tidak stabil. Terjadi penurunan dan pergerakan pondasi yang melebihi dari yang disyaratkan, serta besarnya tidak merata pada seluruh pondasi. Bahkan beberapa pondasi batu kali terlihat miring, menunggu proses keruntuhannya. Jenis tanahnya ternyata tanah lempung, atau terkadang masyarakat menyebutnya dengan tanah hitam, yang mempunyai nilai kembang susut yang cukup besar.

Sehingga, walaupun struktur pondasi dan bangunan di atasnya sudah direncanakan cukup kuat, tapi kalau didirikan di atas tanah yang tidak stabil, maka struktur bangunan tersebut akan ikut menjadi tidak stabil.

Tanah hitam/lempung

Pondasi adalah struktur bawah bangunan yang berfungsi menyalurkan beban-beban atau berat bangunan di atasnya ke dalam tanah. Oleh karenanya, perencanaan pondasi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat tanah yang akan mendukungnya. Disamping, tanah tersebut mampu menahan beban yang disalurkan pondasi, tanah juga harus mempunyai sifat stabilitas yang baik atau perbedaan kembang susut yang rendah.

Jenis tanah lempung atau tanah hitam mempunyai nilai kembang susut yang cukup besar. Pada musim penghujan, tanah lempung akan mengembang cukup besar, dan pada musim kemarau/kering tanah lempung akan menyusut yang cukup besar pula. Sehingga dapat dikatakan mempunyai pergerakan yang besar. Kestabilannya dalam mendukung bangunan di atasnya menjadi jauh berkurang. Apalagi bila pergerakan dan penurunan bangunan ini mempunyai tidak merata pada seluruh bangunan dan pondasi, maka akan berakibat pada timbulnya retakan-retakan dan patahan pada konstruksi betonnya atau dinding batanya, karena beton maupun dinding bata akan mudah sekali retak atau patah apabila menerima beban tarik. Walaupun, retakan-retakan atau patahan tersebut diperbaiki atau ditambal, maka apabila terjadi kembang susut lagi tentunya akan berakibat timbulnya retakan dan patahan kembali.

Tanah lempung mempunyai sifat yang khas yaitu kohesifitas tinggi, dalam keadaan kering bersifat keras, dan jika basah akan bersifat lunak plastis,, mengembang dan menyusut dengan cepat. Oleh karenanya kestabilannya volumenya kecil karena pengaruh air.

Untuk mengantisipasi ketidakstabilan pondasi di atas tanah lempung ini, sebaiknya sebelum membuat pondasi, terlebih dahulu tanah lempung tersebut distabilisasi. Hal ini dapat dilakukan diantaranya dengan mengganti lapisan tanah lempung dengan tanah dengan stabilitas kembang susut yang baik, memasang cerucuk/tiang pancang mini, atau membuat pondasi sumuran.

Penggantian lapisan tanah lempung dengan tanah dengan stabilitas baik dapat dilakukan apabila lapisan tanah lempungnya tidak terlalu dalam sehingga tidak membutuhkan penggalian dan penimbunan yang terlalu banyak. Tanah yang dapat digunakan untuk mengganti tanah lempung misalnya tanah padas, tanah yang dicampur kapur, semen, belerang, agar tidak terjadi kembang susut yang besar. Stabilisasi ini akan berakibat nilai indeks plastisitasnya menjadi rendah, dimana terjadi pengurangan batas cair dan peningkatan batas plastis.

Cara lainnya adalah dengan memberikan cerucuk atau batang-batang bamboo atau kayu yang ditancapkan pada tanah lempung sampai ke tanah keras atau tanah dengan stabilitas yang baik. Penancapan ini dapat dilakukan manual dengan pukulan tangan. Cerucuk ini dimaksudkan untuk menopang pondasi dan menyalurkan beban-beban bangunan sampai ke tanah keras. Disamping itu, penggunaan cerucuk akan mengurangi pengaruh kembang susut yang besar pada pondasi. Pondasi menjadi stabil, tidak mengalami penurunan atau perpindahan yang melebihi yang disayaratkan. Cerucuk ini dapat ditancapkan sesuai dengan lebar pondasi dengan jarak antar tiang cerucuk ini berkisar 30 – 50 cm.

Apabila kesulitan dalam menancapkan batang bamboo atau kayu, dapat digunakan pile-pile beton bertulang ukuran kecil (minipile) yang dapat ditancapkan menggunakan mesin atau dilakukan pengeboran terlebih dahulu bila memungkinkan. Tentunya jumlah yang dibutuhkan disesuaikan dengan kebutuhan beban yang harus dipikul melalui pondasi.

Selain itu, dapat juga digunakan pondasi sumuran, dimana tanah lempung digali sampai pada kondisi tanah yang baik dan daya dukungnya sesuai, kemudian dimasukkan langsung beton siklop atau dapat pula dimasukkan terlebih dahulu buis beton silinder untuk menahan dinding tanah lempungnya, kemudian dimasukkan beton siklop.

Sehingga, sebenarnya “suksesnya” suatu pondasi merupakan awal dari “suksesnya” bangunan di atasnya. Sekuat apapun struktur atas bangunan direncanakan, namun bila pondasi (struktur bawah) bangunan tidak didesain dengan baik sesuai dengan kondisi tanahnya, maka akan sia-sialah perencanaan struktur atas-nya.***