Artikel ini telah diterbitkan Harian JOGLOSEMAR, Minggu, 18 Desember 2011.
MEMILIH BAHAN CAMPURAN BETON
Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.
Pemilihan bahan (material) bangunan yang berkualitas merupakan salah satu hal yang penting diperhatikan dalam proses mendirikan suatu bangunan, selain faktor perencanaan, pelaksanaan dan metode kerjanya. Pengetahuan akan sifat-sifat dan karakteristik bahan bangunan, yang akan digunakan sebagai elemen struktur dan non struktur, akan ikut menentukan kualitas bangunan yang didirikan. Misalkan, dalam membuat campuran beton, sebelum merancang komposisi campuran maka sebelumnya harus diuji terlebih dahulu karakteristik pasir dan kerikilnya, sehingga nantinya diperoleh mutu beton seperti yang direncanakan.
Untuk mengetahui kualitas dan karakteristik bahan bangunan dapat dilakukan dengan pengamatan visual, pengujian langsung di lapangan atau pengujian di laboratorium. Pengamatan visual dilakukan pada bahan-bahan bangunan yang secara visual sudah dapat diketahuai tingkat kualitas, misalkan berdasarkan warna permukaan, kebersihan atau kondisi kering dan basah. Sedangkan pengujian di lapangan dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan uji langsung pada bahan bangunan tersebut atau sampel (benda uji) yang dapat diuji di lapangan. Apabila memerlukan pengujian bahan bangunan di laboratorium, maka dapat dilakukan dengan mengambil beberapa sampel atau benda uji sesuai dengan kondisi peralatan di laboratorium.
Oleh masyarakat, beton merupakan salah satu material yang banyak digunakan untuk mendirikan bangunan, baik sebagai struktur beton, beton bertulang atau beton komposit. Kekuatan tekan beton sangat dipengaruhi oleh material penyusunnya. Oleh karenannya, sangat penting untuk diketahui sifat dan karakteristik material penyusunnya tersebut.
Beton merupakan bahan bangunan yang tersusun atas material pasir (agregat halus), kerikil (agregat kasar), semen dan air. Kualitas dan karakteristik beton akan sangat dipengaruhi oleh material penyusunnya tersebut. Perencanaan campuran beton akan menentukan kuat tekan beton, kemudahan pengerjaan dan besarnya rangkak dan susut beton.
Campuran air dan semen membentuk gel/pasta yang berfungsi mengikat agregat pasir dan kerikil. Terdapat beberapa jenis semen portland yang dapat digunakan sesuai dengan karakteristik beton yang akan dihasilkan. Dari semen tipe I (normal) sampai dengan semen tipe V yang lebih tahan terhadap serangan sulfat.
Di pasaran umumnya banyak beredar semen portland tipe I (normal/PC) yang dapat umum digunakkan. Bahkan, sekarang banyak juga beredar jenis semen portland pozzolan (PPC) dimana sudah ditambahkan pozzolan, yang berfungsi meningkatkan kuat tekan beton tapi dengan kuat tekan awal yang rendah. Sehingga penggunaan PPC ini membutuhkan waktu pengerasan di awal yang lebih lama dibanding menggunakan semen tipe I (normal).
Sebenarnya agregat yang dapat digunakan dalam campuran beton dapat beruapa agregat dari batuan alami dan buatan (artificial). Tapi, umumnya masyarakat saat ini masih dominan menggunakan agregat alami, karena cadangan batuan alami yang masih melimpah. Menurut standar ASTM, agregat halus (pasir) yang akan digunakan dalam campuran beton haruslah mempunyai ukuran butir lebih kecil dari 4,75 mm, dan agregat kasarnya (kerikil) mempunyai ukuran butir lebih besar 4,75 mm sampai 40 mm. Gradasi atau ukuran butir dari agregat yang digunakan haruslah bervariasi atau tidak seragam. Karena kuat tekan beton sangat dipengaruhi oleh kepadatan dari susunan agregat yang diikat oleh pasta semen tersebut. Gradasi agregat yang bervariasi akan menyebabkan meminimalisir rongga dan pori pada beton karena agregat yang lebih kecil akan mengisi rongga-rongga di antar agregat yang lebih besar. Agregat yang bulat dan kasar akan memberikan tingkat kepadatan yang lebih baik dibandingkan agregat yang pipih dan panjang. Gradasi agregat dapat diketahui dengan melakukan uji lolos ayakan atau saringan.
Disamping itu, agregat harus mempunyai kandungan lumpur, lempung dan senyawa organik yang rendah, terutama untuk agregat halus/pasir. Kandungan lumpur dan lempung yang banyak akan mengurangan ikatan pasta semen pada agregat, sedangkan senyawa organik seperti sisa tanaman, humus, zat-zat asam, akan mengganggu proses hidrasi semen dengan air. Kondisi demikian tentunya akan mengurangi kekuatan tekan beton.
Secara visual, pasir yang baik adalah pasir dengan warna kehitaman. Pasir yang berwarna coklat atau lembut biasanya mempunyai kadungan lumpur yang banyak. Atau dengan pengujian di laboratorium dapat diketahui secara pasti kandungan lumpur dan zat-zat organik. Disarankan, sebelum menggunakan agregat halus/pasir ini, dilakukan ‘pencucian’ terlebih dahulu, dengan cara menyiram dengan air agar kandungan lumpurnya larut/hilang.
Penyiraman dengan air ini dapat juga dilakukan apabila agregat terlalu kering, sehingga dapat diperoleh agregat dengan kering permukaan (saturated surface dry), yang diharapkan tidak akan terjadi penyerapan air yang berlebihan oleh agregat, karena mestinya air digunakan untuk proses hidrasi dengan semen.
Sedangkan air yang digunakan hendaklah air yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan air yang tercemar oleh bahan-bahan kimia buangan rumah tangga atau pabrik, air berlumpur atau air kotor dengan kandungan zat organik tinggi. Banyaknya air yang digunakan harus disesuaikan dengan kebutuhan reaksi proses hidrasi dan rencana mutu beton yang direncanakan. Biasanya dinyatakan dalam nilai faktor air semen (fas). Jumlah air yang berlebihan atau kurang tentu akan mengurangi kuat tekan beton yang dibuAt.
Sebelum membuat campuran beton, bahan-bahan penyusun beton haruslah dipersiapkan dengan baik sesuai dengan perhitungan rancangan campuran beton dan mutu/kuat tekan beton yang diharapkan. Pengadukan beton hendaklah merata agar dapat diperoleh campuran beton yang homogen dan apabila diaduk manual hendaklah pada tempat yang bersih dari tanah/kotoran/ sampah.***

