Artikel telah diterbitkan di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 8 Januari 2012, Halaman GAZEBO.
Setiap musim penghujan tiba, di beberapa wilayah seringkali masih masih terjadi bencana banjir. Bahkan, sudah menjadi bencana musiman yang selalu terulang setiap tahun. Walaupun sudah dilakukan berbagai upaya untuk mengantisipasinya, seperti dengan perbaikan saluran drainase, pembuatan sumur resapan, pelebaran dan pengerukan lumpur atau endapan sungai, tapi karena curah hujan yang terjadi cukup besar atau tanggul yang sudah tidak mampu menahan derasnya arus, maka akan menimbulkan banjir.
Banjir ini akan sangat mengganggu aktifitas apabila melanda pada suatu daerah pemukiman dan perkantoran, pasar, sekolah atau fasilitas umum lainnya. Kegiatan sehari-hari menjadi terhenti. Apalagi bila banjir ini tidak hanya menghentikan aktifitas, tapi juga mengakibatkan bangunan dan infrastuktur menjadi rusak atau tidak dapat berfungsi kembali seperti semula. Air banjir yang mengenai bangunan tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi kualitas, keamanan dan kenyamanan bangunan.
Oleh karenanya, penting untuk dievaluasi suatu bangunan yang terlanda banjir, baik saat terjadi banjir maupun setelah banjir. Pada, tulisan ini akan diuraikan evaluasi bangunan rumah atau gedung setelah terlanda banjir. Evaluasi ini dimaksudkan agar bangunan rumah/gedung tersebut dapat langsung difungsikan kembali setelah banjir atau diperlukan perbaikan atau perkuatan pada elemen konstruksinya atau utilitasnya seperti jaringan listrik dan perpipaan. Atau paling tidak konstruksi dan utilitas bangunan dapat terlindungi apabila banjir melanda lagi di masa mendatang.
Evaluasi bangunan rumah/gedung yang terlanda banjir dapat dilakukan umumnya dengan mengkaji tingkat resiko banjir dan evaluasi antisipasi masuknya air banjir ke dalam bangunan, evaluasi kekuatan material dan struktur yang digunakan, jaringan air bersih dan air kotor, instalasi listrik, dan instalasi peralatan elektronik.
Langkah evaluasi pertama kali yang dapat dilakukan adalah mengetahui tingkat resiko terjadinya banjir di lingkungan bangunan rumah/gedung. Lokasi rumah/gedung di daerah bantaran sungai jelas mempunyai tingkat resiko terlanda banjir yang cukup besar, bahkan pada rumah/gedung di sekitar tanggul sungai juga mempunyai tingkat resiko banjir yang tidak kecil. Sedapat mungkin harus dihindari mendirikan bangunan rumah/gedung di daerah bantaran dan tanggul sungai. Karena air banjir yang melanda disamping mempunyai volume yang sangat besar juga mempunyai kecepatan aliran banjir yang tinggi. Bahkan bangunan rumah/gedung beresiko hancur atau hanyut akibat terjangan banjir ini.
Berikutnya dapat dilakukan evaluasi penyebab masuknya air banjir ke areal sekitar dan dalam bangunan rumah/gedung. Air banjir di sekitar bangunan dapat masuk ke dalam bangunan dapat melalui beberapa cara yakni melalui jaringan air kotor atau melalui bagian lubang dari banguan rumah/gedung, seperti pintu dan jendela, lubang atau elevasi dalam bangunan yang lebih rendah dari elevasi di sekitar bangunan. Sehingga, untuk mengantisipasi banyaknya air banjir yang masuk ke dalam rumah, bisa dilakukan dengan pembendungan pada tempat-tempat yang memungkinkan air banjir masuk. Pembendungan ini dapat dilakukan juga secara permanen setelah banjir surut, sehingga apabila terjadi ‘kiriman’ air banjir di masa mendatang dapat langsung dibendung.
Evaluasi yang tidak kalah pentingnya adalah evalusi material dan konstruksi bangungan rumah/gedung. Hal ini menyangkut keamanan dan kenyamanan bangunan rumah/gedung, apabila bangunan tersebut difungsikan kembali setelah terlanda banjir. Karena beberapa material bangunan akan mengalami pengurangan (degradasi) kekuatan akibat terkena dan terendam air banjir. Bahkan, kondisi struktur bangunan secara keseluruhan akan mengalami perubahan akibat hantaman kecepatan aliran air banjir.
Material dari kayu atau bambu akan mudah terjadi kembang susut dan pelapukan akibat kadar air yang dikandungnya. Oleh, karenannya air banjir yang mengenai material bamboo atau kayu harus segera dikeringkan agar tidak terjadi pengembangan dan pelapukan. Air banjir yang terserap dalam material bamboo atau kayu dapat juga sebagai sarang bakteri dan serangga yang tidak baik untuk kesehatan. Sedangkan pada material baja atau beton biasanya mempunyai serapan air yang sangat kecil, namun demikian pada baja biasanya dapat menimbulkan karat pada permukaan apabila dalam kondisi lembab setelah terjadi banjir. Pada material beton bertulang, apabila terjadi retakan, maka kemungkinan besar air banjir akan masuk dan dapat pula menyebabkan karat/korosi pada baja tulangannya. Untuk itu, setelah kering baja harus segera dilapisi dengan cat anti karat dan beton bertulang yang mengalami retak hendaknya segera di tambal.
Evaluasi konstruksi bangunan rumah/gedung secara menyeluruh juga harus dilakukan. Apakah struktur pondasi, kolom, dinding dan sebagainya mengalami kerusakan, perubahan atau terjadi ketidakstabilan. Biasanya, banjir yang melanda banyak mempengaruhi konstruksi pondasi dan dinding yang retak/rusak. Apabila pondasi dan dinding mengalami pergeseran atau retakan maka harus segera dilakukan perbaikan dan perkuatan. Apabila dirasa kerusakannya ini mengkhawatirkan, maka dapat meminta seorang ahli struktur untuk melakukan evaluasi untuk dapat dilakukan perbaikan dan perkuatan yang sesuai.
Evaluasi terakhir yang dapat dilakukan adalah evaluasi pada jaringan listrik dan peralatan elektronika, terutama pada jaringan yang terletak di bagian bawah. Jaringan yang masih terkena air akan sangat berbahaya apabila terjadi arus pendek atau konsleiting, yang bisa menyebabkan terjadinya kebakaran.
Sehingga, apabila evaluasi bangunan rumah/gedung setelah terlanda banjir ini dapat dilakukan dengan baik dan benar, maka bangunan rumah/gedung tersebut dapat digunakan kembali dengan aman dan nyaman, serta terjadinya banjir di masa mendatang dapat diantisipasi.


thanks…