DAUR ULANG LIMBAH KAYU

Diterbitkan harian JOGLOSEMAR, Minggu 10 Agustus 2014

wood

Data kuantitas limbah kayu yang pasti dari proses pengolahan kayu dari mulai penebangan sampai ke pemanfaatannya menjadi material struktural ataupun untuk keperluan mebelair/furniture belum bisa ditentukan.
Paling tidak dari pemanfaatan kayu jadi yang tiap tahunnya mencapai ratusan ribu hingga jutaan kubik kayu, sudah dapat diperkirakan kira-kira berapa ratus ribu kubik limbah kayu yang dihasilkan. Cukup besar jumlah pabrik pengolahan kayu berupa industri besar, menengah dan kecil, seperti pengrajin kerajianan kayu rumahan atau pengrajin mebel perorangan. Limbah kayu ini dapat berupa hasil serbuk hasil penggergajian, pengetaman, pengamplasan, dan ranting-ranting kayu dan potongan-potongan kayu.
Secara umum, penghasil limbah kayu ini dapat dikategorikan ke dalam tiga sumber yaitu rumah tangga dan produsen kerajinan kayu, pengepakan dengan material kayu, dan penggunaan konstruksi dan demolisi. Di Inggris saja, data pada awal tahun 2001 menunjukkan bahwa limbah kayu dari rumah tangga mencapai 420000 ton, dari pengepakan kayu sekitar 670000 ton dan limbah kayu yang berasal dari industri konstruksi dan demolisi mencapai 750000 ton. Suatu nilai limbah yang tidak sedikit lagi.
Berdasarkan data dari The Wood Recycling Association, Inggris, dari limbah kayu sebesar itu yang baru dapat dilakukan proses daur ulang sekitar 350000-400000 ton per tahun, sehingga masih banyak sisa limbah kayu yang belum terserap untuk untuk didaur ulang.
Lebih detail lagi, limbah kayu secara mudah dikategorikan atas 5 macam yaitu limbah hijau (green waste), limbah dari kayu tanpa perlakuan (treatment) untuk pengepakan, limbah kayu struktural (konstruksi), limbah kayu pemrosesan, dan limbah pembuatan produk kayu.
Termasuk kategori limbah hijau adalah limbah-limbah hasil pengelolaan kayu secara langsung dari pohonnya. Pemulihan/pemanfaatan kembali dari limbah ini dilakukan dengan cara dekomposisi, penanaman kembali, penyebaran pada tanah. Limbah dari proses pengepakan dilakukan proses pemanfaatan kembali, daur ulang biasa dan pemulihan energi.
Limbah struktural, berasalah dari proses pembuatan konstruksi, bantalan rel kereta, tiang linstrik dan sebagainya. Limbah ini biasanya kayu sudah dilakukan perlakuan khusus atau pemberian bahan kimia tertentu untuk pengawetan dan ketahanan terhadap serangan jamur, rayap dan serangga. Pemanfaatan limbah ini biasanya dengan melakukan proses daur ulang terbatas atau daurulang dengan tujuan-tujuan tertentu, pemolesan dan sebagainya.
Limbah kayu dari hasil pemrosesan kayu dan produk furnitur seperti serbuk penggergajian dan pengamplasan, serat/lembar hasil pengetaman, dan pentatahan, penggunaannya kembali dapat diakukan dengan beberapa cara seperti penggabungan dengan perekat/alat sambung, pencampuran dengan material lain/resin, untuk dapat digunakan sebagai material lain yang non struktural seperti panel dinding, papan (board) dan sebagainya.
Namun demikian, hal yang perlu diperhatikan dalam proses daur ulang untuk pemanfaatan kembali limbah kayu harus memperhatikan beberapa perlakuan kayu saat akan digunakan dan selama pemakaian produk kayu tersebut.
Umumnya produk kayu diberikan perlakuan diantaranya adalah perlindungan perawatan permukaan kayu dengan cat, dempul, oli. Aplikasi penggunakan kayu dengan resin, lem dan bahan kimia lain untuk pengawetan, pengempaan dan pemberian tekanan. Hal itu agar dalam proses daur ulang dapat diperoleh produk kayu yang memang sesuai dengan kondisi dan peruntukannya setelah diproses.
Beberapa penelitian yang telah penulis lakukan untuk pemanfaatan limbah kayu ini, terutama dari limbah hasil penggergajian dan pengetaman yang banyak dihasilkan oleh industri pengolahan kayu, seperti pabrik mebel, lantai kayu dan penggergajian kayu, adalah pembuatan panel-panel dinding dengan menggunakan perekat resin atau pun sebagai bahan campuran panel dinding beton dengan agregat ringan, dan panel dinding dengan campuran pasta semen, agregat limbah PET dan limbah serbuk dan ketaman kayu.***

ALAM DAN BENTUK ARSITEKTUR

all4architecture.blogspot.com

all4architecture.blogspot.com

Salah satu kegunaan mempelajari dan menerapkan arsitektur dalam setiap perancangan bangunan infrastruktur, seperti gedung, rumah tinggal, taman, dan sebagainya, adalah terciptanya keselarasan antara bangunan tersebut dengan kondisi alam yang melingkupinya.
Alam yang dimaksud disini merupakan kondisi geografis dan geologis, kondisi cuaca, suhu atau musim, dimana bangunan akan didirikan. Perjalanan perancangan arsitektur di beberapa tempat dan negara tampak sekali menyesuaikan dengan kondisi alamnya.
Perancangan arsitektur banyak terwujudkan dalam bentuk arsitektur yang dilandasi oleh fungsi dan ruang bangunan itu sendiri. Fungsi akan menunjukkan aktifitas-aktifitas penghuninya dan ruang memperlihatkan kapasitas untuk memenuhi aktifitas-aktifitas tersebut. Bentuk arsitektur rumah tinggal di daerah tropis Indonesia akan berbeda dengan di daerah gurun Arab Saudi atau pun di daerah dengan empat musim seperti Jepang.
Perilaku alam yang diwujudkan dalam jumlah dan jenis musim yang mungkin terjadi menentukan bentuk arsitektur bangunan yang akan dibuat. Bentuk arsitektur merupakan cara yang tepat untuk menyikapi dan menyelaraskan diri dengan alam. Konsep perancangan arsitektur bukanlah melawan atau bertentangan dengan kondisi alam dan lingkungannya.
Dilihat dari sisi penghuninya, tentu saja, perancangan arsitektur bangunan akan melindungi (kenyamanan) dan kemampuan bertahan hidup (keamanan) penghuni dari dari pengaruh lingkungan alam dan cuaca.
Broadbent, seorang arsitek andal, lebih detail menjelaskan tentang enam fungsi dalam perancangan arsitektur yakni pertama, perancangan yang mewujudkan bangunan sebagai penyaring lingkungan (environment filter), yang dimaksudkan sebagai pelindung penghuni dalam menyesuaikan kondisi alam dan lingkungan agar dapat beraktifitas sesuai dengan kondisi penghuninya. Pembagian ruang-ruang juga memnungkinakan penghuni dapat beraktifitas dengan mudah dan nyaman.
Kedua, bangunan sebagai wadah aktifitas, yang dimaksudkan sebagai tempat segala aktifitas penghuninya secara terintegrasi. Ketiga, bangunan memberikan keuntungan sebagai modal investasi dan ekonomis, dalam takaran tertentu dapat mempengaruhi bentuk arsitektur dikaitkan dengan nilai dan fungsi ekonomi bangunan.
Keempat, bangunan dapat berfungsi sebagai simbol budaya dan agama. Hal ini tampak dari bangunan di masing-masing daerah di Indonesia yang menunjukkan tingkat kebudayaan dan pengaruh lingkungan alam sekitarnya. Juga, pada bangunan-bangunan yang berfungsi religi, sangat terlihat sekali perbedaan bentuk arsitekturnya, seperti tampak pada bangunan masjid, gereja, pura, candi ataupun vihara. Bangunan simbol agama ini disamping menunjukkan bentuk arsitektur dimana agama tersebut berasal, tapi juga sudah menyesuaikan kondisi alam dan lingkungan tempat didirikannya.
Kelima, bentuk arsitektur bangunan yang dirancang dapat juga menunjukkan pola perilaku aktifitas dan jati diri penghuninya. Keenam, bentuk arsitektur bangunan dapat memperlihatkan keindahan dan selera estetika penghuninya.
Dari keenam fungsi perancangan arsitektur, semestinya harus dipenuhi semuanya, sehingga dapat diperoleh suatu bentuk arsitektur yang mencerminkan terpenuhinya fungsi, ruang dan estetika bangunan.
Sebagai contoh, apabila dilihat rumah adat jawa tengah, dengan bentuk atap yang menguncup tinggi (joglo, pelana atau limasan) dengan emperan/teritisan/teras yang rendah menunjukkan keterkaitan yang erat untuk menyesuaikan dengan kondisi alam dan musim (penghujan dan kemarau). Hiasan-hiasan di sepanjang atap kerpus dan jurai juga menambah keindahan.
Bentuk atap yang tinggi akan memungkinkan sirkulasi udara yang nyaman di musin kemarau (panas), udara panas akan mengalir ke ruang kosong tinggi di atasnya. Apalagi bila plafon yang digunakan cukup tinggi dan berlubang sebagai jalan menglirnya udara ke atas. Sehingga, tidak membutuhkan alat pengatur udara (air conditioning/AC) untuk membuat nyaman penghuninya dan tentu saja hemat energi.
Bisa juga dilihat bentuk-bentuk arsitektur bangunan lama (tradisional dan jaman Belanda) lainnya seperti gedung pemerintahan, gedung ibadah, bangunan rumah sakit dan lain sebagainya, yang paling tidak sudah mencerminkan perancangan arsitektur yang memenuhi enam hal yang disampaikan oleh Broadbent.
Sementara, dengan atap emperan/teras yang rendah memungkinkan tidak terjadinya tampias, apabila terjadi hujan lebat sekalipun, ke teras yang biasaya juga digunakan untuk aktifitas santai di pagi atau sore hari. Pada siang hari pun akan terasa sejuk dan tidak panas.
Sayangnya, rumah-rumah minimalis sekarang, sepertinya hanya melihat bentuk arsitektur dari aspek ekonomis saja. Bentuknya memang indah, tapi apabila dikaitkan dengan kondisi alam musim kemarau dan hujan, maka bentuk minimalis kurang pas. Apabila musim panas, dibutuhkan alat pendingin udara, yang berarti butuh energi listrik yang besar. Apabila musim penghujan datang, karena atap emperan yang tinggi, tidak bisa beraktifitas di teras/balkon karena pasti akan terkena tempias air hujan. Tidak bisa lagi menikmati kopi panas dan pisang goreng di teras/balkon sambil menikmati hujan di luar.***2 Agustus 2014

DINDING BANGUNAN

Diterbitkan Harian JOGLOSEMAR, Minggu 6 Juli 2014.

Selama ini orang awam melihat dinding suatu bangunan hanya berfungsi sebagai pembagi atau pembatas antar ruang. Material yang digunakan pun biasanya berupa material dari bahan utama penyusun konstruksi bangunan tersebut, seperti dari bata tanah liat, bata beton, papan kayu, dan sebagainya.
Namun seiring dengan perkembangan teknologi material bangunan yang semakin bervariasi, ternyata juga berpengaruh pada fungsi dinding pada suatu bangunan.
Bila dikaji lebih lanjut, selain sebagai pembagi dan pembatas ruang dalam bangunan dan pembatas bangunan dengan lingkungan di sekitarnya, ternyata dinding juga dapat berfungsi sebagai bagian struktur yang menahan dan menyalurkan beban-baban di atasnya, berupa atap atau lantai-lantai di atasnya. Fungsi lain dinding diantaranya adalah a) dinding dapat memberikan fungsi stabilisasi bersama bagian konstruksi bangunan yang lain, terutama untuk menerima beban-baban horisontal (lateral) akibat terjadinya gempa atau angin yang cukup besar, b) dinding dapat memberikan privasi dan rasa aman nyaman bagi penghuninya di dalam bangunan maupun dari luar bangunan, c) untuk memodifikasi iklim mikro dalam bangunan dan menjaga suhu yang nyaman bagi penghuninya (lebih panas atau lebih dingin) dari lingkungan ruar bangunan, d) dinding dapat membantu proses menaikkan dan menurunkan kelembaban relatif ruangan, e) mengatur sirkulasi udara dalam ruangan, dan f) mengatur kekedapan suara yang keluar atau masuk pada bangunan tersebut, serta g) melokalisir panas atau rambatan api apabila terjadi kebakaran pada bangunan atau ruang tertentu.
Sesuai dengan peruntukkannya, dinding sendiri dapat dikategorikan atas dua hal, yakni berdasarkan beban yang bekerja padannya dan tipe konstruksi dinding. Berdasarkan beban yang bekerja, dinding dibagi atas dinding struktural, dinding stabiliser, dan dinding non-struktural.
Dinding struktural dimaksudkan bahwa dinding yang dibangun mempunyai fungsi juga sebagai pemikul beban vertikal di atasnya, selain menahan berat sendirinya. Dinding stabiliser diperlukan untuk ikut menahan beban horisontal dan miring pada bangunan, dan tentunya juga berfungsi menahan beban vertikal dan berat sendiri dinding. Sedangkan dinding non-struktural direncanakan hanya menerima beban berat sendirinya, tidak untuk menahan beban yang lain dalam bangunan.
Berdasarkan tipe konstruksinya, dinding dibedakan atas : dinding unitised (satuan), dinding homogen, dan dinding rangka.
Dinding unitised merupakan dinding yang terbuat dari pasangan bata atau blok batako yang saling direkatkan (dengan spesi) dan diperkuat dengan tulangan untuk menghindari retakan atau perlemahan struktur.
Dinding homogen merupakan dinding yang terbuat dari bahan yang plastis dan dikeringkan atau dibakar seperti tanah liat atau beton yang diperkuat dengan serat-serat alami atau anyaman kawat/tulangan baja, atau tulangan dari kayu dan bambu.
Sedangkan dinding rangka, terbuat dari konstruksi rangkan kayu/bambu, baja, beton atau aluminium yang kemudian ditutup dengan pelat kayu, panel beton, baja atau material lain.
Yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dinding berdasarkan tipe struktur adalah ketahanannya yang untuk menerima beban lentur yang tegak lurus dinding dan ketahanan terhadap beban geser searah penampang dinding. Untuk itu diperlukan bresing-bresing atau tulangan-tulangan disesuaikan dengna tipe struktur dinding.
Oleh karenanya pada perencanaan dinding harus memenuhi beberapa persyaratan stabilitas diantaranya yaitu stabilitas struktur, stabilitas lingkungan, stabilitas dimensi dan ketahan terhadap api/kebakaran.
Stabilitas struktur dinding dikaitkan dengan fungsi yang akan dicapai meliputi stabilitas dalam hal ketahanan terhadap beban-beban luar, tekuk, dan benturan. Stabilitas terhadap lingkungan meliputi kontrol terhadap ketahanan cuaca, ketahanan terhadap pergerakan angin, ketahanan terhadap suhu, ketahanan terhadap suara, dan ketahanan terhadap serangan kimiawi.
Stabilitas terhadap api atau kebakaran meliputi seberapa besar nilai kemudahan dapat terbakar (combustability) material dinding, ketahanan rambat panas, dan kekedapan terhadap api.
Stabilitas dimensi meliputi meliputi ketahanan yang berkaitan dengan kualitas dan performa material yang digunakan sebagai dinding untuk memenuhi stabilitas-stabilitas di atas.
Berkaitan dengan fungsi dan persyaratan stabilisasi dinding yang akan dibangun, maka cukup penting untuk mengetahui karakteristik material dinding yang akan digunakan sesuai dengan standar-standar performa yang digunakan.***

PERAWATAN KAYU

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

(diterbitkan harian JOGLOSEMAR, Minggu 15 September 2013)

wood

Kayu merupakan material bangunan yang rentan terhadap kondisi lingkungan baik cuaca maupun serangan serangga, apabila tidak dilakukan pengolahan dan perawatan yang benar sebelum dan saat digunakan sebagai material bangunan.
Sebelum digunakan kayu harus diolah sedemikian rupa sehingga penyusutannya harus memenuhi syarat dan lebih tahan terhadap serangan rayap, kumbang, atau serangga lainnya yang memakan atau menggerogoti kayu, serta pelapukan oleh jamur.
Kayu terbentuk dari tiga unsur utama yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin serta unsur tambahan yaitu zat ekstraktif dan zat silika. Selulosa merupakan zat utama pembentuk dinding sel kayu yang merupakan makanan utama bagi rayap. Lignin berfungsi sebagai pengikat antar dinding sel kayu. Hemiselulosa berfungsi sebagai pendukung selulosa untuk membentuk matrik dinding sel. Zat ekstraktif merupakan faktor yang menentukan tingkat keawetan alami kayu, sedangkan zat silika menentukan tingkat kekerasan alami kayu. Zat ekstraktif yang semakin beracun akan mengakibatkan tingkat keawetan alami kayu semakin tinggi. Kandungan silika yang tinggi mengakibatkan kekerasan pada kayu. Kualitas kayu dipengaruhi oleh jenis kayu, berat jenis kayu, umur, posisi kayu di dalam batang, dan musimpenebangan kayu.
Beberapa jenis kayu yang memiliki keunggulan dalam hal kekuatan, keawetan, dan kemudahan pengerjaannya sejak dulu sering digunakan sepertik kayu jati (Tectona grandi), kayu ulin (Eusideron zwageri), kayu bayam, kayu besi atau merbau (Intsia bijuga), dan lain sebagainya. Hal itu juga dapat dilihat di beberapa bangunan masa lampau dari konstruksi kayu seperti masjid, keraton, rumah adat, ornamen, patung, dan lainnya yang sebagian dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya.
Namun demikian, hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kayu cepat atau lambat akan mengalami proses kerusakan dan pelapukan. Oleh karena itu kayu perlu perawatan dan pengawetan agar kayu tidak cepat menjadi rusak dan lapuk, sehingga umurnya menjadi lebih lama.
Oleh karena itu kayu perlu mendapatkan perawatan yang baik selama umur bangunan, sehingga kualitasnya tetap terjaga. Menurut petunjuk teknis perawatan kayu yang dikeluarkan oleh Direktorat Peninggalan Purbakala, maka proses perawatan kayu dapat dilakukan melalui dua tahap, yaitu sebelum pelaksanaan perawatan dan saat perawatan. Hal ini dikarenakan sebelum perawatan, kondisi kayu yang sebenaranya harus dikaji terlebih dahulu, sehingga penanganan perawatan yang dilakukan tidak mengalami kekeliruan.
Kegiatan awal sebelum perawatan adalah dengan melakukan observasi terhadap material kayu yang digunakan, meliputi pemeriksaan morfologi, kilap, tekstur dan struktur kayu, pemeriksaan kerusakan dan pelapukan, pemeriksaan kondisi permukaan, kondisi lingkungan dan kemungkinan munculnya serangga perusak.
Pemeriksaan kerusakan dan pelapukan harus secara detail menggambarkan kondisi kilap kayu, perubahan warna dan bentuk, adanya retakan, pecahan, pembelahan, keropos, lapuk, busuk, atau pelunakan kayu.
Setelah semua terobservasi dengan baik, maka langkah berikutnya adalah menentukan rancangan perawatan sesuai dengan kaidah-kaidah teknis. Kegiatan perawatan ini pada dasarnya meliputi perawatan preventif (pencegahan) dan perawatan kuratif.
Perawatan preventif dimaksudkan untuk mencegah terjadinya proses kerusakan dan pelapukan kayu. Perawat pencegahan dapat dilakukan dengan dua cara, yakni perawatan rutin dan pengendalian kondisi klimatologi di lingkungan mikro dan makro.
Sedangkan perawatan kuratif dimaksudkan untuk menanggulangi segala permasalahan kerusakan dan pelapukan kayu. Perawatan kuratif terdiri atas perawatan tradisional dan perawatan modern. Perbedaan kedua jenis perawatan kuratif tersebut tidak begitu menonjol, hanya sebatas peralatan dan cara yang digunakan. Disamping itu, perawatan modern sudah menggunakan berbagai macam pembersiah mekanis kering dan kimiawi.
Pembersihan kimiawi, biasanya digunakan alkohol, aceton, toluol, ethyl acetate, atau bahan pembersih cat khusus neorever, dan kertas pH.***

KONSUMSI ENERGI PADA BANGUNAN

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

(artikel diterbitkan harian JOGLOSEMAR, Minggu 8 September 2013)
Hasil perhitungan konsumsi energi di dunia ternyata menyebutkan bahwa bangunan memerlukan konsumsi energi sekitar 40% dari total konsumsi energi. Sisanya dibagi hampir sama untuk industri dan transportasi. Hal ini yang menyebabkan perhatian serius untuk segera direduksi penggunaan energi pada bangunan. Bahkan Uni Eropa pun menargetkan untuk mengurangi konsumsi energi sampai sekitar 22% berdasarkan Protokol Kyoto. Pengurangan ini juga diharapkan dapat mengurangi efek rumah kaca sebesar 8% pada tahun 2012 kemarin. Indonesia pun mengupayakan hal ini dengan mendukung terciptanya bangunan hijau (green building) yang diawali dengan beberapa kota besar dengan mensyaratkan perhitungan konsumsi energi yang menyeluruh pada suatu bangunan baik pada saat pembangunan maupun saat operasional.
Upaya tersebut diantaranya dengan membatasi pemakaian air conditioner (AC) dimana tidak hanya penggunaan untuk pemanas pada musim dingin, tapi juga pendingin pada musim panas. Data dari Diekmann, umumnya 60% dari total penggunaan energi pada bangunan (kantor) dapat dibedakan untuk AC sekitar 32%, penerangan 20%, pemanas air 5% dan peralatan elektronik lainnya sekitar 5%. Demikian halnya di Indonesia, penggunaan AC dan pencahayaan harus mulai dibatasi, diganti dengan desain-dasain bangunan yang mengoptimalkan kenyamanan dan pencahayaan bangunan yang alami.
Desain bangunan hendaknya juga memperhitungkan pola sirkulasi udara dan pencahayaan yang memadai pada saat operasional atau penggunaan. Penggunaan AC yang serampangan mestinya dihindari. Kantor-kantor pemerintah, sekolah dan bangunan publik lainnya yang saat ini hampir menggantungkan pada pemakaian AC untuk menciptakan kenyamanan tentunya harus segera dikurangi. Pemerintah mestinya memberikan contoh nyata dalam penghematan konsumsi energi ini.
Tentunya permasalahan konsumsi energi ini, pada tahun-tahun mendatang akan semakin bertambah walaupun upaya penghematan terus dilakukan. Konsumsi energi pada tahun 2020 dapat meningkat hampir 50%. Persyaratan ketat untuk konsumsi energi bagi bangunan baru menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi. Ijin mendirikan bangunan harus mengikutsertakan evaluasi konsumsi energi bangunan, sesuai dengan kapasitas dan fungsi bangunan yang akan didirikan.
Pada bangunan perumahan pun saat ini penggunaan penyejuk udara (AC) mengalami peningkatan yang cukup besar. Hampir perumahan menengah ke atas saat ini sudah terpasang AC lebih dari satu, dengan rata-rata konsumsi daya 350 Watt ke atas. Di Eropa memang karena iklimnya dominan dingin, justru konsumsi energi banyak digunakan untuk pemanas. Yang menarik adalah disamping penggunaan pemanas, di Eropa sekarang banyak dikembangkan material bangunan perumahan yang dapat mereduksi perambatan iklim dan udara dingin di luar bangunan perumahan. Juga penggunaan ventilasi-ventilasi yang dapat menahan masuknya udara dingin secara langsung ke dalam rumah.
Bila dihitung lebih mendetail, kebutuhan energi per orang per tahun idealnya sekitar 250 sampai 1750 kWh, tergantung dari pola konsumsi pada bangunan atau perumahan. Sedangkan untuk rumah tangga berkisar 3600 kWh.
Namun demikian, memang konsumsi energi pada suatu bangunan atau perumahan sangat bergantung pada pola hidup dan penggunaan bangunan itu sendiri. Sebagian besar operasional bangunan saat ini bergantung pada konsumsi energi listrik. Walaupun untuk pola kebutuhan biaya hidup, konsumsi energi ini penyerapannya masih berkisar antara 5-20% dari total biaya kebutuhan tiap bulan.***

PRODUK MATERIAL BERBASIS KAYU

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

 Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 5 Januari 2014


Pemanfaatan kayu gelondongan (utuh) dari hasil hutaan saat ini sudah mulai mencapai keterbatasan, dikarenakan oleh ketersediaannya yang semakin menipis. Sehingga, dilakukan upaya-upaya untuk pemanfaatan kayu dengan maksimal dan penggunaan kayu alternatif/kayu cepat tumbuh yang sekarang mulai banyak dikembangkan. Upaya tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan berbagai produk material yang basis utamanya adalah kayu. Fungsi utama material kayu tetap menjadi hal yang menentukan, baik untuk fungsi struktural maupun non-struktural, interior maupun eksterior.

Dalam istilah industri, pemanfaatan ini dikenal dengan produk material komposit berbasis kayu. Istilah material komposit disini dimaksudkan sebagai komponen kayu (berupa serat, serbuk, veneer/lembaran, papan) yang direkatkan satu sama lain dengan perekat (adhesive). Material komposit berbasis kayu ini dapat berupa papan serat (fibreboard), papan partikel (particleboard), sampai balok laminasi (laminated beam). Tampak bahwa material komposit berbasis kayu dapat memanfaatkan semua jenis dan tipe kayu, baik itu kayu hasil residu penebangan, daur ulang kayu, serat kayu, kayu diameter kecil, dan sebagainya.

Secara umum, menurut Maloney, produk material komposit berbasis kayu ini dibagai atas 4 kategori yaitu 1) material berbasis veneer (plywood, laminated veneer leumber/LVL, parallel strand lumber/PSL), 2) material laminasi (glued laminated timber, overlayde materials, komposit kayu-non kayu laminasi, multiwood composite), 3) material komposit (papan serat, papan serat selulosa, hardboard, papan partikel, waferboard, flakeboard, oriented strand board, laminated strand lumber, oriented strand lumber), 4) Komposit kayu-non kayu (komposit serat kayu-polimer, inorganic-bonded composite).

Secara konvensional, pembuatan material komposit berbasis kayu ini dilakukan dengan sedikit sekali menggukan perekat (resin) dan bahan tambahnya. Sekitar 90% atau lebih dari massa material komposit merupakan komponen kayu, sisanya merupakan perekat (adhesive). Perekat yang digunakan umumnya adalah phenol formaldehyde (PF), urea formaldehyde (UF), melamine formaldehyde (MF), isocyanates, dan perekat bio-based.

Perekat phenol formaldhyde (PF) banyak digunakan untuk proses perekatan material berbasis kayu yang akan digunakan pada panel eksterior, konstruksi yang langsug berhubungan dengan cuaca. Sedangkan perekat UF banyak digunakan untuk material komposit yang akan digunakan dalam ruangan (interior). Perekat MF digunakan untuk merekatkan panel-panel interior atau laminasi dekonratif, lem kertas dan sebagainya. Perekat MF relatif lebih mahal dibandingkan perekat PF, dan seringnya digunakan bersamaan/dicampur dengan perekat UF. Perekat isocyanates lebih banyak digunakan sebagai pengganti penggunaan perekat PF, sedangkan perekat berbasis bio saat ini mulai lebih banyak dikembangkan dan digunakan sebagai alternatif pengganti penggunaan perekat formaldehyde yang untuk jangka panjang tidak beaik untuk kesehatan. Perekat berbasis bio dapat dihasilkan dari biji-bijian dan lignin dengan pengolahan khusus.

Zat tambahan juga banyak digunakan seperti wax, yang dimaksudkan untuk membuat perekat lebih tahan terhadap air atau tidak menyerap air. Hal ini diperlukan juga untuk membuat material kayu lebih stabil pada kondisi lingkungan yang lembab.

Plywood merupakan sebuah produk panel yang dibuat dari lembaran-lembaran (veneer) yang umum disebut dengan plies (ply). Plywood  paling banyak dijual di pasaran. Lembaran-lembaran tersebut disusun dan direkatkan saling tegak lurus. Lembaran muka dan belakang harus mempunyai arah serat yang sama. Sehingga, mensyarakan jumlah lembaran pada plywood adalah ganjil (odd). Tripleks adalah salah satu tipe plywood.

Oriented strandboard (OSB) adalah produk berbasis kayu yang terdiri atas strand tipis kayu yang direkatkan satu sama lain dengan perekat dan resin anti air. Terkadang banyak digunakan untuk keperluan struktural. Umumnya terbuat atas tiga lapis strand.

Papan partikel banyak digunakan untuk keperluan papan panel dinding, mebelair (meja, almari) dan sebagainya. Papan partikel dibuat dari partikel-partikel kayu yang direkatkan, kemudian dipadatkan dengan panas dan tekanan.

Sedangkan papan fiber terbuat atas serat-serat kayu yang direkatkan satu sama lain dan dipadatkan. Yang paling banyak dijual di pasaran adalah tipe MDF atau middle-density fibre board. MDF dapat dibuat dalam proses kering dan basah.***