DRAINASE, TIDAK SEKEDAR MEMATUS AIR

Seringkali saluran drainase dituding menjadi satu-satunya penyebab terjadinya genangan atau banjir bila musim hujan datang. Karena sebenarnya saluran drainase merupakan salah satu bagian dari proses bergulirnya siklus air di permukaan bumi, baik itu drainase dalam skala kecil berupa saluran-saluran penampung di sekitar rumah kita, maupun tampungan hilir drainase berupa parit atau sungai.

dsci0087.jpg

Oleh karena itu, permasalahan-permasalahan dalam pengelolaan sumber daya air di perkotaan ini memerlukan perhatian yang serius bagi pengambil kebijakan pembangunan perkotaan, dan diharapkan tidak dilakukan secara parsial atau terpisah-pisah. Dibutuhkan suatu program yang pengelolaan yang menyeluruh, sehingga keberlangsungan pasokan air di perkotaan dapat terpenuhi sepanjang tahun.

Konsep pengelolaan air perkotaan paling tidak harus mengacu pada konsep pembangunan yang telah digagas oleh United Nation Enviromental Program (UNEP) yakni pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan mendasarkan pada konsep memadukan pembangunan dengan konservasi, dimana pembangunan yang tetap menghormati, peduli dan memelihara komunitas dalam kehidupan lingkungan, serta tetap berusaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup.

Pembangunan berkelanjutan dalam perkotaan menghendaki kebijakan pengelolaan yang terintegrasi antar beberapa bagian yang mendukung pembangunan di perkotaan. Seperti yang akan penulis paparkan dalam tulisan ini, yaitu upaya penanggulangan masalah banjir dan ketersediaan air bersih di perkotaan yang tetap melakukan upaya-upaya konservasi bagi penyediaan cadangan air.

Drainase Kota

Kota merupakan pusat segala aktifitas kehidupan. Oleh karenanya, kota harus menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung keberlangsungan aktifitas kehidupan tersebut, seperti prasarana perumahan, industri, perkantoran, pasar, jalan/terminal/ stasiun untuk transportasi dan sebagainya. Kondisi demikian maka diperlukan lahan yang cukup dan sarana prasarana pendukung yang memadai, termasuk didalamnya penyediaan air bersih, drainase, dan  saluran pembuangan limbah. Ketiga hal ini menjadi satu kesatuan yang harus terintegrasi dalam sistem pengelolaan air di kota.

Drainase (pematusan) kota yang buruk selama ini sering dijadikan penyebab terjadinya banjir (oleh air hujan) di kota, sehingga terkadang secara parsial, penanggulangan masalah banjir hanya tertumpu pada upaya memperbanyak saluran-saluran drainase. Padahal perencanaan drainase kota saat ini tidak hanya menganut konsep pematusan atau pengaliran air saja, tapi juga menganut konsep konservasi air perkotaan.

Dalam perencanaan drainase juga perlu dihindarkan pemikiran ‘sekedar mematus air’ atau ‘asal air mengalir lancar’ saja, tapi juga perlu dipikirkan daya tampung saluran atau sungai yang terakhir. Jangan sampai menghilangkan masalah di suatu tempat justru akan minimbulkan masalah baru di tempat lain. Pengelolaan saluran drainase tidak boleh bersifat individual, tapi harus terintegrasi antara hulu sampai hilir. Sehingga bagian hilir selalu menjadi ’korban’ bagian hulu yang tidak terkendali dalam mematuskan air. Apalagi bila proses resapan air di daerah yang tergenang kurang baik, maka volume air yang banyak tersebut akan cepat menjadi banjir.

Pengembangan model sedot tekan pada sistem drainase juga diperlukan, dimana digunakan sistem menyedot air di daerah genangan/banjir dan selanjutnya air ditekan untuk masuk ke dalam tanah. Atau dengan membuatkan waduk-waduk dan situ-situ untuk tampungan dan resapan air. Air dialirkan atau dipompakan ke dalamnya. Sehingga limpasan air yang menjadi banjir dapat dihindari, atau paling tidak dapat mengurangi ketinggian air genangan atau banjir.***

BETON HIJAU

Peningkatan jumlah kebutuhan akan infrastruktur sangat pesat dalam tiga dekade terakhir  ini, dan tentunya mendorong peningkatan penggunaan material-material konstruksi yang sangat besar pula.

Penggunaan material konstruksi yang umumnya masih diperoleh dari alam baik langsung maupun tidak langsung, akan memberikan dampak pada ketersediaan material tersebut, karena bagaimanapun bumi akan memiliki keterbatasan untuk menyediakannya.  Disamping itu, eksploitasi yang besar-besaran akan memberikan pengaruh yang cukup besar pada kondisi lingkungannya yakni menurunnya tingkat kualitas lingkungan.

2013-05-26 09.39.27

Pada tahun 1992 di Rio de Janeiro (Brasil) dan tahun 1997 di Kyoto (Jepang) telah diselenggarakan Pertemuan Tingkat Tinggi tentang Bumi (World Earth Summit) yang menghasilkan kesepakatan tentang pentingnya kelangsungan dan konservasi lingkungan yang menyeluruh di segala bidang akibat ekploitasi lingkungan yang besar-besaran, termasuk di dalamnya penggunaan material-material alami pada pembangunan infrastruktur. Pada World Earth Summit tersebut dirumuskan kebijakan yang harus dilakukan bersama yakni a) pengurangan emisi gas rumah kaca, b) efisiensi penggunaan energi dan material dasar alami, dan c) pemakaian material daur ulang dari limbah (waste).

Kondisi demikian jelas akan memunculkan dilema dan permasalahan bagi bidang teknik sipil, yang mana pada pembangunan infrastruktur merupakan perencana dan pelaksana penggunaan material yang diperoleh dari alam, seperti penggunaan material beton yang merupakan campuran dari air, semen, pasir dan kerikil.

Menurut Neville, walaupun penggunaan semen relatif sedikit, sekitar 7-15%, dalam pembuatan beton, tapi ternyata semen membutuhkan energi yang lebih besar pada proses pembuatannya dan memberikan dampak yang cukup besar bagi lingkungan. Dalam proses pembuatan semen ternyata, a) kurang efisien dalam penggunaan bahan mentah (raw material), karena untuk membuat 1 ton klinker OPC (or

dinary portland cement) dibutuhkan kurang lebih 1,7 bahan mentah, b) penggunaan energi cukup besar, untuk mendapatkan klinker harus dilakukan pembakaran material mentah sampai 14500C, c) emisi gas CO2 yang dihasilkan masih cukup besar, untuk menghasilkan 1 ton klinker OPC dihasilkan gas CO2 kurang lebih 1 ton.

Penggunaan pasir dan kerikil sebagian besar masih langsung diperoleh dari alam, melalui proses alami di alur-alur sungai dan laut, hasil erupsi gunung berapi, maupun dengan pemecahan dan penggilingan bongkahan batu-batu besar. Rata-rata penggunaan pasir dan kerikil ini sekitar 80% dari volume beton. Ekploitasi pasir dan kerikil yang berlebihan tentu akan merusak lingkungan dan mengganggu ekosistem yang ada.

Oleh karenanya masalah ini harus dapat diminimalisir oleh ahli bidang teknik sipil dengan membuat beton yang mempunyai  pengaruh negatif bagi lingkungan sekecil mungkin, yang disebut sebagai beton hijau (green concrete) yang ramah lingkungan. Dalam proses pembuatannya diusahakan seminimal mungkin menghasilkan emisi CO2, konsumsi energi yang rendah dan penggunaan material alami yang sedikit.

Sesuai dengan tujuannya maka beton hijau dikembangkan dengan langkah-langkah yaitu a) bagaimana membuat beton dengan mutu yang cukup tinggi (high performance concrete) dengan penggunaan material yang sehemat mungkin, b) mengusahakan pembuatan beton dengan material dari material limbah (waste material) dan material buatan, yang dapat mengurangi penggunaan material alami, c) mencari solusi alternatif pengganti penggunaan dan subtitusi sebagian semen sebagai bahan pengikat pada campuran beton.

Saat ini sudah banyak dihasilkan beberapa desain campuran beton hijau yang penggunaan materialnya cukup hemat tapi mempunyai nilai kuat tekan yang cukup tinggi (30 MPa lebih) dengan memaksimalkan pengisian pori-pori beton dengan material pengisi (filler/nano material) yang diperoleh dari pengolahan material lain yang sederhana.

Dikembangkan pula beton hijau dengan konsep High Volume Fly Ash Concrete (HVFAC) yang merupakan beton dengan menambahkan fly ash (abu terbang) yang reaktif sebagai suplemen semen dan mineral admixture, dan Alkali Activated Material/Geopolymer Concrete yaitu beton yang sama sekali tidak menggunakan semen, tapi menggunakan aktivasi alkali pada material precursor yang kaya akan silika-alumina (seperti material semen) seperti abu gunung, lempung, kaolin, abu batubara, slag, silica fume, dan abu sekam padi, sebagai bahan pengikat agregat beton.

Konsep pembuatan beton hijau juga mengacu pada konsep 4R dalam rencana kelangsungan lingkungan yaitu reduce (mengurangi), refurbish (memperbaharui), reuse (menggunakan kembali) dan recycle (pengolahan kembali).***

Konsumsi Energi pada Bangunan

Hasil perhitungan konsumsi energi  di dunia ternyata menyebutkan bahwa bangunan memerlukan konsumsi energi sekitar 40% dari total konsumsi energi. Sisanya dibagi hampir sama untuk industri dan transportasi. Hal ini yang menyebabkan perhatian serius untuk segera direduksi penggunaan energi pada bangunan. Bahkan Uni Eropa pun menargetkan untuk mengurangi konsumsi energi sampai sekitar 22% berdasarkan Protokol Kyoto. Pengurangan ini juga diharapkan dapat mengurangi efek rumah kaca sebesar 8% pada tahun 2012 kemarin. Indonesia pun mengupayakan hal ini dengan mendukung terciptanya bangunan hijau (green building) yang diawali dengan beberapa kota besar dengan mensyaratkan perhitungan konsumsi energi yang menyeluruh pada suatu bangunan baik pada saat pembangunan maupun saat operasional.

Upaya tersebut diantaranya dengan membatasi pemakaian air conditioner (AC) dimana tidak hanya penggunaan untuk pemanas pada musim dingin, tapi juga  pendingin pada musim panas. Data dari Diekmann, umumnya 60% dari total penggunaan energi pada bangunan (kantor) dapat dibedakan untuk AC sekitar 32%, penerangan 20%, pemanas air 5% dan peralatan elektronik lainnya sekitar 5%. Demikian halnya di Indonesia, penggunaan AC dan pencahayaan harus mulai dibatasi, diganti dengan desain-dasain bangunan yang mengoptimalkan kenyamanan dan pencahayaan bangunan yang alami.

Desain bangunan hendaknya juga memperhitungkan pola sirkulasi udara dan pencahayaan yang memadai pada saat operasional atau penggunaan. Penggunaan AC yang serampangan mestinya dihindari. Kantor-kantor pemerintah, sekolah dan bangunan publik lainnya yang saat ini hampir menggantungkan pada pemakaian AC untuk menciptakan kenyamanan tentunya harus segera dikurangi. Pemerintah mestinya memberikan contoh nyata dalam penghematan konsumsi energi ini.

Tentunya permasalahan konsumsi energi ini, pada tahun-tahun mendatang akan semakin bertambah walaupun upaya penghematan terus dilakukan. Konsumsi energi pada tahun 2020 dapat meningkat hampir 50%. Persyaratan ketat untuk konsumsi energi bagi bangunan baru menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi. Ijin mendirikan bangunan harus mengikutsertakan evaluasi konsumsi energi bangunan, sesuai dengan kapasitas dan fungsi bangunan yang akan didirikan.

Pada bangunan perumahan pun saat ini penggunaan penyejuk udara (AC) mengalami peningkatan yang cukup besar. Hampir perumahan menengah ke atas saat ini sudah terpasang AC lebih dari satu, dengan rata-rata konsumsi daya 350 Watt ke atas. Di Eropa memang karena iklimnya dominan dingin, justru konsumsi energi banyak digunakan untuk pemanas. Yang menarik adalah disamping penggunaan pemanas, di Eropa sekarang banyak dikembangkan material bangunan perumahan yang dapat mereduksi perambatan iklim dan udara dingin di luar bangunan perumahan. Juga penggunaan ventilasi-ventilasi yang dapat menahan masuknya udara dingin secara langsung ke dalam rumah.

Bila dihitung lebih mendetail, kebutuhan energi per orang per tahun idealnya sekitar 250 sampai 1750 kWh, tergantung dari pola konsumsi pada bangunan atau perumahan. Sedangkan untuk rumah tangga berkisar 3600 kWh.

Namun demikian, memang konsumsi energi pada suatu bangunan atau perumahan sangat bergantung pada pola hidup dan penggunaan bangunan itu sendiri. Sebagian besar operasional bangunan saat ini bergantung pada konsumsi energi listrik. Walaupun untuk pola kebutuhan biaya hidup, konsumsi energi ini penyerapannya masih berkisar antara 5-20% dari total biaya kebutuhan tiap bulan.***

PANEL SANDWICH UNTUK DINDING

Diterbitkan harian JOGLOSEMAR, Minggu 15 Maret 2015

Panel sandwich pada awalnya banyak digunakan untuk konstruksi dinding pesawat udara atau kapal atau sebagian alat transportasi darat (mobil). Panel sandwich ini biasanya terdiri atas komposisi dua lapis tipis kulit (skin) dan bagian inti/tengah (core) diantara kedua lapisan kulit.
Lapisan kulit terbuat dari polimer berserat (fiber-reinforced polymer, FRP) atau terbuat dari bahan metal seperti baja atau alumunium. Sedangkan bagian inti dapat terdiri atas bahan-bahan yang berbentuk sarang madu (honeycomb core), gelombang/lipatan (corrugated core), rangka batang (truss core), C core, Z core, I core atau material ringan berongga lainnya. Antara lapisan kulit dan bagian inti dihubungkan dengan perekat polimer seperti resin epoxy.
Lapisan kulit panel diharapkan mampu menahan tarik dan tekan yang terjadi pada lenturan panel, dan lapisan inti dimaksudkan dapat menjaga stabilitas jarak kedua lapisan kulit dan dapat menahan dan mentransfer beban titik pada tumpuan yang ada pada panel. Disamping itu, bagian inti panel juga terkadang dimaksudkan sebagai bagian isolasi panas atau sebagai peredam suara.
Pada desain konstruksi bangunan gedung, penggunaan panel dinding memang umumnya dimaksudkan untuk memberikan perlindungan secara umum pada elemen konstruksi bangunan, perlindungan panas dan bahaya kebakaran, peredaman suara dan pembentukan estetikan bangunan.
Panel dinding yang digunakan biasanya merupakan panel dinding non-struktural, dimana panel tidak dimaksudkan untuk menerima beban-beban utama konstruksi bangunan. Selama ini banyak juga digunakan panel sandwich dinding bangunan gedung yang terdiri atas lapisan kulit beton pracetak dan bagian inti berupa beton ringan atau beton busa (foam). Namun, karena masih digunakan material dari beton, maka berat sendiri dari panel sandwich untuk dinding tersebut masih relatif berat. Penggunaan tulangan baja, juga mempunyai kekhawatiran akan terjadinya korosi, karena kondisi panel dinding luar (khususnya) yang langsung berhubungan dengan kelembaban.
Untuk itu, saat ini sudah mulai banyak dikembangkan material panel sandwich yang biasanya digunakan untuk pesawat terbang dan kapal, digunakan pula untuk konstruksi dinding pada bangunan gedung. Bahkan, pengembangannya nantinya dapat digunakan sebagai panel atap dan lantai.
Yang menarik adalah penggunaan bagian inti/tengah panel sandwich yang semakin bervariasi dari segi bentuk maupun jenis materialnya. Kemampuan menahan geser, tarik dan tekan material yang digunakan, akan berpengaruh besar pada kemampuannya menahan lentur dan perilaku lenturnya sendiri. Beban yang diterima akan ditransfer dari bagian kulit satu ke bagian kulit yang lainnya melalui transfer geser pada bagian intinya.
Oleh karenanya, pemilihan jenis material kulit dan material inti menjadi suatu kombinasi yang sangat menentukan pola transfer beban dan karakteristik mekanik dari panel sandwich. Lapisan kulit dari bahat serat alami dan polimer/resin polyurethane, juga mulai banyak dikembangkan, dengan bagian inti yang terdiri atas material alami juga, seperti komposit material dari serbuk gergaji, potongan kayu, abu sekam, dan sebagainya.
Bagian inti panel sandwich juga dapat berupa rongga-rongga/batang-batang baja atau kayu yang tersusun sebagai bentuk rangka batang (truss). Hal itu dapat dimaksudkan agar tranfer geser dari kulit satu ke yang lainnya dapat lebih efektif dan optimum, disamping akan membuat panel sandwich lebih ringan.
Penggunaan panel sandwich yang ringan, tentunya akan berdampak pada berat sendiri struktur yang lebih ringan, sehingga dapat mengurangi besar beban lateral pada masing-masing lantai akibat terjadinya goyangan akibat gempa. Beban lateral gempa yang lebih kecil, berarti akan mengurangi resiko kegagalan konstruksi bangunan akibat beban gempa.***

DAUR ULANG LIMBAH KAYU

Diterbitkan harian JOGLOSEMAR, Minggu 10 Agustus 2014

wood

Data kuantitas limbah kayu yang pasti dari proses pengolahan kayu dari mulai penebangan sampai ke pemanfaatannya menjadi material struktural ataupun untuk keperluan mebelair/furniture belum bisa ditentukan.
Paling tidak dari pemanfaatan kayu jadi yang tiap tahunnya mencapai ratusan ribu hingga jutaan kubik kayu, sudah dapat diperkirakan kira-kira berapa ratus ribu kubik limbah kayu yang dihasilkan. Cukup besar jumlah pabrik pengolahan kayu berupa industri besar, menengah dan kecil, seperti pengrajin kerajianan kayu rumahan atau pengrajin mebel perorangan. Limbah kayu ini dapat berupa hasil serbuk hasil penggergajian, pengetaman, pengamplasan, dan ranting-ranting kayu dan potongan-potongan kayu.
Secara umum, penghasil limbah kayu ini dapat dikategorikan ke dalam tiga sumber yaitu rumah tangga dan produsen kerajinan kayu, pengepakan dengan material kayu, dan penggunaan konstruksi dan demolisi. Di Inggris saja, data pada awal tahun 2001 menunjukkan bahwa limbah kayu dari rumah tangga mencapai 420000 ton, dari pengepakan kayu sekitar 670000 ton dan limbah kayu yang berasal dari industri konstruksi dan demolisi mencapai 750000 ton. Suatu nilai limbah yang tidak sedikit lagi.
Berdasarkan data dari The Wood Recycling Association, Inggris, dari limbah kayu sebesar itu yang baru dapat dilakukan proses daur ulang sekitar 350000-400000 ton per tahun, sehingga masih banyak sisa limbah kayu yang belum terserap untuk untuk didaur ulang.
Lebih detail lagi, limbah kayu secara mudah dikategorikan atas 5 macam yaitu limbah hijau (green waste), limbah dari kayu tanpa perlakuan (treatment) untuk pengepakan, limbah kayu struktural (konstruksi), limbah kayu pemrosesan, dan limbah pembuatan produk kayu.
Termasuk kategori limbah hijau adalah limbah-limbah hasil pengelolaan kayu secara langsung dari pohonnya. Pemulihan/pemanfaatan kembali dari limbah ini dilakukan dengan cara dekomposisi, penanaman kembali, penyebaran pada tanah. Limbah dari proses pengepakan dilakukan proses pemanfaatan kembali, daur ulang biasa dan pemulihan energi.
Limbah struktural, berasalah dari proses pembuatan konstruksi, bantalan rel kereta, tiang linstrik dan sebagainya. Limbah ini biasanya kayu sudah dilakukan perlakuan khusus atau pemberian bahan kimia tertentu untuk pengawetan dan ketahanan terhadap serangan jamur, rayap dan serangga. Pemanfaatan limbah ini biasanya dengan melakukan proses daur ulang terbatas atau daurulang dengan tujuan-tujuan tertentu, pemolesan dan sebagainya.
Limbah kayu dari hasil pemrosesan kayu dan produk furnitur seperti serbuk penggergajian dan pengamplasan, serat/lembar hasil pengetaman, dan pentatahan, penggunaannya kembali dapat diakukan dengan beberapa cara seperti penggabungan dengan perekat/alat sambung, pencampuran dengan material lain/resin, untuk dapat digunakan sebagai material lain yang non struktural seperti panel dinding, papan (board) dan sebagainya.
Namun demikian, hal yang perlu diperhatikan dalam proses daur ulang untuk pemanfaatan kembali limbah kayu harus memperhatikan beberapa perlakuan kayu saat akan digunakan dan selama pemakaian produk kayu tersebut.
Umumnya produk kayu diberikan perlakuan diantaranya adalah perlindungan perawatan permukaan kayu dengan cat, dempul, oli. Aplikasi penggunakan kayu dengan resin, lem dan bahan kimia lain untuk pengawetan, pengempaan dan pemberian tekanan. Hal itu agar dalam proses daur ulang dapat diperoleh produk kayu yang memang sesuai dengan kondisi dan peruntukannya setelah diproses.
Beberapa penelitian yang telah penulis lakukan untuk pemanfaatan limbah kayu ini, terutama dari limbah hasil penggergajian dan pengetaman yang banyak dihasilkan oleh industri pengolahan kayu, seperti pabrik mebel, lantai kayu dan penggergajian kayu, adalah pembuatan panel-panel dinding dengan menggunakan perekat resin atau pun sebagai bahan campuran panel dinding beton dengan agregat ringan, dan panel dinding dengan campuran pasta semen, agregat limbah PET dan limbah serbuk dan ketaman kayu.***

ALAM DAN BENTUK ARSITEKTUR

all4architecture.blogspot.com

all4architecture.blogspot.com

Salah satu kegunaan mempelajari dan menerapkan arsitektur dalam setiap perancangan bangunan infrastruktur, seperti gedung, rumah tinggal, taman, dan sebagainya, adalah terciptanya keselarasan antara bangunan tersebut dengan kondisi alam yang melingkupinya.
Alam yang dimaksud disini merupakan kondisi geografis dan geologis, kondisi cuaca, suhu atau musim, dimana bangunan akan didirikan. Perjalanan perancangan arsitektur di beberapa tempat dan negara tampak sekali menyesuaikan dengan kondisi alamnya.
Perancangan arsitektur banyak terwujudkan dalam bentuk arsitektur yang dilandasi oleh fungsi dan ruang bangunan itu sendiri. Fungsi akan menunjukkan aktifitas-aktifitas penghuninya dan ruang memperlihatkan kapasitas untuk memenuhi aktifitas-aktifitas tersebut. Bentuk arsitektur rumah tinggal di daerah tropis Indonesia akan berbeda dengan di daerah gurun Arab Saudi atau pun di daerah dengan empat musim seperti Jepang.
Perilaku alam yang diwujudkan dalam jumlah dan jenis musim yang mungkin terjadi menentukan bentuk arsitektur bangunan yang akan dibuat. Bentuk arsitektur merupakan cara yang tepat untuk menyikapi dan menyelaraskan diri dengan alam. Konsep perancangan arsitektur bukanlah melawan atau bertentangan dengan kondisi alam dan lingkungannya.
Dilihat dari sisi penghuninya, tentu saja, perancangan arsitektur bangunan akan melindungi (kenyamanan) dan kemampuan bertahan hidup (keamanan) penghuni dari dari pengaruh lingkungan alam dan cuaca.
Broadbent, seorang arsitek andal, lebih detail menjelaskan tentang enam fungsi dalam perancangan arsitektur yakni pertama, perancangan yang mewujudkan bangunan sebagai penyaring lingkungan (environment filter), yang dimaksudkan sebagai pelindung penghuni dalam menyesuaikan kondisi alam dan lingkungan agar dapat beraktifitas sesuai dengan kondisi penghuninya. Pembagian ruang-ruang juga memnungkinakan penghuni dapat beraktifitas dengan mudah dan nyaman.
Kedua, bangunan sebagai wadah aktifitas, yang dimaksudkan sebagai tempat segala aktifitas penghuninya secara terintegrasi. Ketiga, bangunan memberikan keuntungan sebagai modal investasi dan ekonomis, dalam takaran tertentu dapat mempengaruhi bentuk arsitektur dikaitkan dengan nilai dan fungsi ekonomi bangunan.
Keempat, bangunan dapat berfungsi sebagai simbol budaya dan agama. Hal ini tampak dari bangunan di masing-masing daerah di Indonesia yang menunjukkan tingkat kebudayaan dan pengaruh lingkungan alam sekitarnya. Juga, pada bangunan-bangunan yang berfungsi religi, sangat terlihat sekali perbedaan bentuk arsitekturnya, seperti tampak pada bangunan masjid, gereja, pura, candi ataupun vihara. Bangunan simbol agama ini disamping menunjukkan bentuk arsitektur dimana agama tersebut berasal, tapi juga sudah menyesuaikan kondisi alam dan lingkungan tempat didirikannya.
Kelima, bentuk arsitektur bangunan yang dirancang dapat juga menunjukkan pola perilaku aktifitas dan jati diri penghuninya. Keenam, bentuk arsitektur bangunan dapat memperlihatkan keindahan dan selera estetika penghuninya.
Dari keenam fungsi perancangan arsitektur, semestinya harus dipenuhi semuanya, sehingga dapat diperoleh suatu bentuk arsitektur yang mencerminkan terpenuhinya fungsi, ruang dan estetika bangunan.
Sebagai contoh, apabila dilihat rumah adat jawa tengah, dengan bentuk atap yang menguncup tinggi (joglo, pelana atau limasan) dengan emperan/teritisan/teras yang rendah menunjukkan keterkaitan yang erat untuk menyesuaikan dengan kondisi alam dan musim (penghujan dan kemarau). Hiasan-hiasan di sepanjang atap kerpus dan jurai juga menambah keindahan.
Bentuk atap yang tinggi akan memungkinkan sirkulasi udara yang nyaman di musin kemarau (panas), udara panas akan mengalir ke ruang kosong tinggi di atasnya. Apalagi bila plafon yang digunakan cukup tinggi dan berlubang sebagai jalan menglirnya udara ke atas. Sehingga, tidak membutuhkan alat pengatur udara (air conditioning/AC) untuk membuat nyaman penghuninya dan tentu saja hemat energi.
Bisa juga dilihat bentuk-bentuk arsitektur bangunan lama (tradisional dan jaman Belanda) lainnya seperti gedung pemerintahan, gedung ibadah, bangunan rumah sakit dan lain sebagainya, yang paling tidak sudah mencerminkan perancangan arsitektur yang memenuhi enam hal yang disampaikan oleh Broadbent.
Sementara, dengan atap emperan/teras yang rendah memungkinkan tidak terjadinya tampias, apabila terjadi hujan lebat sekalipun, ke teras yang biasaya juga digunakan untuk aktifitas santai di pagi atau sore hari. Pada siang hari pun akan terasa sejuk dan tidak panas.
Sayangnya, rumah-rumah minimalis sekarang, sepertinya hanya melihat bentuk arsitektur dari aspek ekonomis saja. Bentuknya memang indah, tapi apabila dikaitkan dengan kondisi alam musim kemarau dan hujan, maka bentuk minimalis kurang pas. Apabila musim panas, dibutuhkan alat pendingin udara, yang berarti butuh energi listrik yang besar. Apabila musim penghujan datang, karena atap emperan yang tinggi, tidak bisa beraktifitas di teras/balkon karena pasti akan terkena tempias air hujan. Tidak bisa lagi menikmati kopi panas dan pisang goreng di teras/balkon sambil menikmati hujan di luar.***2 Agustus 2014