PANEL SANDWICH UNTUK DINDING

Diterbitkan harian JOGLOSEMAR, Minggu 15 Maret 2015

Panel sandwich pada awalnya banyak digunakan untuk konstruksi dinding pesawat udara atau kapal atau sebagian alat transportasi darat (mobil). Panel sandwich ini biasanya terdiri atas komposisi dua lapis tipis kulit (skin) dan bagian inti/tengah (core) diantara kedua lapisan kulit.
Lapisan kulit terbuat dari polimer berserat (fiber-reinforced polymer, FRP) atau terbuat dari bahan metal seperti baja atau alumunium. Sedangkan bagian inti dapat terdiri atas bahan-bahan yang berbentuk sarang madu (honeycomb core), gelombang/lipatan (corrugated core), rangka batang (truss core), C core, Z core, I core atau material ringan berongga lainnya. Antara lapisan kulit dan bagian inti dihubungkan dengan perekat polimer seperti resin epoxy.
Lapisan kulit panel diharapkan mampu menahan tarik dan tekan yang terjadi pada lenturan panel, dan lapisan inti dimaksudkan dapat menjaga stabilitas jarak kedua lapisan kulit dan dapat menahan dan mentransfer beban titik pada tumpuan yang ada pada panel. Disamping itu, bagian inti panel juga terkadang dimaksudkan sebagai bagian isolasi panas atau sebagai peredam suara.
Pada desain konstruksi bangunan gedung, penggunaan panel dinding memang umumnya dimaksudkan untuk memberikan perlindungan secara umum pada elemen konstruksi bangunan, perlindungan panas dan bahaya kebakaran, peredaman suara dan pembentukan estetikan bangunan.
Panel dinding yang digunakan biasanya merupakan panel dinding non-struktural, dimana panel tidak dimaksudkan untuk menerima beban-beban utama konstruksi bangunan. Selama ini banyak juga digunakan panel sandwich dinding bangunan gedung yang terdiri atas lapisan kulit beton pracetak dan bagian inti berupa beton ringan atau beton busa (foam). Namun, karena masih digunakan material dari beton, maka berat sendiri dari panel sandwich untuk dinding tersebut masih relatif berat. Penggunaan tulangan baja, juga mempunyai kekhawatiran akan terjadinya korosi, karena kondisi panel dinding luar (khususnya) yang langsung berhubungan dengan kelembaban.
Untuk itu, saat ini sudah mulai banyak dikembangkan material panel sandwich yang biasanya digunakan untuk pesawat terbang dan kapal, digunakan pula untuk konstruksi dinding pada bangunan gedung. Bahkan, pengembangannya nantinya dapat digunakan sebagai panel atap dan lantai.
Yang menarik adalah penggunaan bagian inti/tengah panel sandwich yang semakin bervariasi dari segi bentuk maupun jenis materialnya. Kemampuan menahan geser, tarik dan tekan material yang digunakan, akan berpengaruh besar pada kemampuannya menahan lentur dan perilaku lenturnya sendiri. Beban yang diterima akan ditransfer dari bagian kulit satu ke bagian kulit yang lainnya melalui transfer geser pada bagian intinya.
Oleh karenanya, pemilihan jenis material kulit dan material inti menjadi suatu kombinasi yang sangat menentukan pola transfer beban dan karakteristik mekanik dari panel sandwich. Lapisan kulit dari bahat serat alami dan polimer/resin polyurethane, juga mulai banyak dikembangkan, dengan bagian inti yang terdiri atas material alami juga, seperti komposit material dari serbuk gergaji, potongan kayu, abu sekam, dan sebagainya.
Bagian inti panel sandwich juga dapat berupa rongga-rongga/batang-batang baja atau kayu yang tersusun sebagai bentuk rangka batang (truss). Hal itu dapat dimaksudkan agar tranfer geser dari kulit satu ke yang lainnya dapat lebih efektif dan optimum, disamping akan membuat panel sandwich lebih ringan.
Penggunaan panel sandwich yang ringan, tentunya akan berdampak pada berat sendiri struktur yang lebih ringan, sehingga dapat mengurangi besar beban lateral pada masing-masing lantai akibat terjadinya goyangan akibat gempa. Beban lateral gempa yang lebih kecil, berarti akan mengurangi resiko kegagalan konstruksi bangunan akibat beban gempa.***

| Tinggalkan komentar

DAUR ULANG LIMBAH KAYU

Diterbitkan harian JOGLOSEMAR, Minggu 10 Agustus 2014

wood

Data kuantitas limbah kayu yang pasti dari proses pengolahan kayu dari mulai penebangan sampai ke pemanfaatannya menjadi material struktural ataupun untuk keperluan mebelair/furniture belum bisa ditentukan.
Paling tidak dari pemanfaatan kayu jadi yang tiap tahunnya mencapai ratusan ribu hingga jutaan kubik kayu, sudah dapat diperkirakan kira-kira berapa ratus ribu kubik limbah kayu yang dihasilkan. Cukup besar jumlah pabrik pengolahan kayu berupa industri besar, menengah dan kecil, seperti pengrajin kerajianan kayu rumahan atau pengrajin mebel perorangan. Limbah kayu ini dapat berupa hasil serbuk hasil penggergajian, pengetaman, pengamplasan, dan ranting-ranting kayu dan potongan-potongan kayu.
Secara umum, penghasil limbah kayu ini dapat dikategorikan ke dalam tiga sumber yaitu rumah tangga dan produsen kerajinan kayu, pengepakan dengan material kayu, dan penggunaan konstruksi dan demolisi. Di Inggris saja, data pada awal tahun 2001 menunjukkan bahwa limbah kayu dari rumah tangga mencapai 420000 ton, dari pengepakan kayu sekitar 670000 ton dan limbah kayu yang berasal dari industri konstruksi dan demolisi mencapai 750000 ton. Suatu nilai limbah yang tidak sedikit lagi.
Berdasarkan data dari The Wood Recycling Association, Inggris, dari limbah kayu sebesar itu yang baru dapat dilakukan proses daur ulang sekitar 350000-400000 ton per tahun, sehingga masih banyak sisa limbah kayu yang belum terserap untuk untuk didaur ulang.
Lebih detail lagi, limbah kayu secara mudah dikategorikan atas 5 macam yaitu limbah hijau (green waste), limbah dari kayu tanpa perlakuan (treatment) untuk pengepakan, limbah kayu struktural (konstruksi), limbah kayu pemrosesan, dan limbah pembuatan produk kayu.
Termasuk kategori limbah hijau adalah limbah-limbah hasil pengelolaan kayu secara langsung dari pohonnya. Pemulihan/pemanfaatan kembali dari limbah ini dilakukan dengan cara dekomposisi, penanaman kembali, penyebaran pada tanah. Limbah dari proses pengepakan dilakukan proses pemanfaatan kembali, daur ulang biasa dan pemulihan energi.
Limbah struktural, berasalah dari proses pembuatan konstruksi, bantalan rel kereta, tiang linstrik dan sebagainya. Limbah ini biasanya kayu sudah dilakukan perlakuan khusus atau pemberian bahan kimia tertentu untuk pengawetan dan ketahanan terhadap serangan jamur, rayap dan serangga. Pemanfaatan limbah ini biasanya dengan melakukan proses daur ulang terbatas atau daurulang dengan tujuan-tujuan tertentu, pemolesan dan sebagainya.
Limbah kayu dari hasil pemrosesan kayu dan produk furnitur seperti serbuk penggergajian dan pengamplasan, serat/lembar hasil pengetaman, dan pentatahan, penggunaannya kembali dapat diakukan dengan beberapa cara seperti penggabungan dengan perekat/alat sambung, pencampuran dengan material lain/resin, untuk dapat digunakan sebagai material lain yang non struktural seperti panel dinding, papan (board) dan sebagainya.
Namun demikian, hal yang perlu diperhatikan dalam proses daur ulang untuk pemanfaatan kembali limbah kayu harus memperhatikan beberapa perlakuan kayu saat akan digunakan dan selama pemakaian produk kayu tersebut.
Umumnya produk kayu diberikan perlakuan diantaranya adalah perlindungan perawatan permukaan kayu dengan cat, dempul, oli. Aplikasi penggunakan kayu dengan resin, lem dan bahan kimia lain untuk pengawetan, pengempaan dan pemberian tekanan. Hal itu agar dalam proses daur ulang dapat diperoleh produk kayu yang memang sesuai dengan kondisi dan peruntukannya setelah diproses.
Beberapa penelitian yang telah penulis lakukan untuk pemanfaatan limbah kayu ini, terutama dari limbah hasil penggergajian dan pengetaman yang banyak dihasilkan oleh industri pengolahan kayu, seperti pabrik mebel, lantai kayu dan penggergajian kayu, adalah pembuatan panel-panel dinding dengan menggunakan perekat resin atau pun sebagai bahan campuran panel dinding beton dengan agregat ringan, dan panel dinding dengan campuran pasta semen, agregat limbah PET dan limbah serbuk dan ketaman kayu.***

| Tinggalkan komentar

ALAM DAN BENTUK ARSITEKTUR

all4architecture.blogspot.com

all4architecture.blogspot.com

Salah satu kegunaan mempelajari dan menerapkan arsitektur dalam setiap perancangan bangunan infrastruktur, seperti gedung, rumah tinggal, taman, dan sebagainya, adalah terciptanya keselarasan antara bangunan tersebut dengan kondisi alam yang melingkupinya.
Alam yang dimaksud disini merupakan kondisi geografis dan geologis, kondisi cuaca, suhu atau musim, dimana bangunan akan didirikan. Perjalanan perancangan arsitektur di beberapa tempat dan negara tampak sekali menyesuaikan dengan kondisi alamnya.
Perancangan arsitektur banyak terwujudkan dalam bentuk arsitektur yang dilandasi oleh fungsi dan ruang bangunan itu sendiri. Fungsi akan menunjukkan aktifitas-aktifitas penghuninya dan ruang memperlihatkan kapasitas untuk memenuhi aktifitas-aktifitas tersebut. Bentuk arsitektur rumah tinggal di daerah tropis Indonesia akan berbeda dengan di daerah gurun Arab Saudi atau pun di daerah dengan empat musim seperti Jepang.
Perilaku alam yang diwujudkan dalam jumlah dan jenis musim yang mungkin terjadi menentukan bentuk arsitektur bangunan yang akan dibuat. Bentuk arsitektur merupakan cara yang tepat untuk menyikapi dan menyelaraskan diri dengan alam. Konsep perancangan arsitektur bukanlah melawan atau bertentangan dengan kondisi alam dan lingkungannya.
Dilihat dari sisi penghuninya, tentu saja, perancangan arsitektur bangunan akan melindungi (kenyamanan) dan kemampuan bertahan hidup (keamanan) penghuni dari dari pengaruh lingkungan alam dan cuaca.
Broadbent, seorang arsitek andal, lebih detail menjelaskan tentang enam fungsi dalam perancangan arsitektur yakni pertama, perancangan yang mewujudkan bangunan sebagai penyaring lingkungan (environment filter), yang dimaksudkan sebagai pelindung penghuni dalam menyesuaikan kondisi alam dan lingkungan agar dapat beraktifitas sesuai dengan kondisi penghuninya. Pembagian ruang-ruang juga memnungkinakan penghuni dapat beraktifitas dengan mudah dan nyaman.
Kedua, bangunan sebagai wadah aktifitas, yang dimaksudkan sebagai tempat segala aktifitas penghuninya secara terintegrasi. Ketiga, bangunan memberikan keuntungan sebagai modal investasi dan ekonomis, dalam takaran tertentu dapat mempengaruhi bentuk arsitektur dikaitkan dengan nilai dan fungsi ekonomi bangunan.
Keempat, bangunan dapat berfungsi sebagai simbol budaya dan agama. Hal ini tampak dari bangunan di masing-masing daerah di Indonesia yang menunjukkan tingkat kebudayaan dan pengaruh lingkungan alam sekitarnya. Juga, pada bangunan-bangunan yang berfungsi religi, sangat terlihat sekali perbedaan bentuk arsitekturnya, seperti tampak pada bangunan masjid, gereja, pura, candi ataupun vihara. Bangunan simbol agama ini disamping menunjukkan bentuk arsitektur dimana agama tersebut berasal, tapi juga sudah menyesuaikan kondisi alam dan lingkungan tempat didirikannya.
Kelima, bentuk arsitektur bangunan yang dirancang dapat juga menunjukkan pola perilaku aktifitas dan jati diri penghuninya. Keenam, bentuk arsitektur bangunan dapat memperlihatkan keindahan dan selera estetika penghuninya.
Dari keenam fungsi perancangan arsitektur, semestinya harus dipenuhi semuanya, sehingga dapat diperoleh suatu bentuk arsitektur yang mencerminkan terpenuhinya fungsi, ruang dan estetika bangunan.
Sebagai contoh, apabila dilihat rumah adat jawa tengah, dengan bentuk atap yang menguncup tinggi (joglo, pelana atau limasan) dengan emperan/teritisan/teras yang rendah menunjukkan keterkaitan yang erat untuk menyesuaikan dengan kondisi alam dan musim (penghujan dan kemarau). Hiasan-hiasan di sepanjang atap kerpus dan jurai juga menambah keindahan.
Bentuk atap yang tinggi akan memungkinkan sirkulasi udara yang nyaman di musin kemarau (panas), udara panas akan mengalir ke ruang kosong tinggi di atasnya. Apalagi bila plafon yang digunakan cukup tinggi dan berlubang sebagai jalan menglirnya udara ke atas. Sehingga, tidak membutuhkan alat pengatur udara (air conditioning/AC) untuk membuat nyaman penghuninya dan tentu saja hemat energi.
Bisa juga dilihat bentuk-bentuk arsitektur bangunan lama (tradisional dan jaman Belanda) lainnya seperti gedung pemerintahan, gedung ibadah, bangunan rumah sakit dan lain sebagainya, yang paling tidak sudah mencerminkan perancangan arsitektur yang memenuhi enam hal yang disampaikan oleh Broadbent.
Sementara, dengan atap emperan/teras yang rendah memungkinkan tidak terjadinya tampias, apabila terjadi hujan lebat sekalipun, ke teras yang biasaya juga digunakan untuk aktifitas santai di pagi atau sore hari. Pada siang hari pun akan terasa sejuk dan tidak panas.
Sayangnya, rumah-rumah minimalis sekarang, sepertinya hanya melihat bentuk arsitektur dari aspek ekonomis saja. Bentuknya memang indah, tapi apabila dikaitkan dengan kondisi alam musim kemarau dan hujan, maka bentuk minimalis kurang pas. Apabila musim panas, dibutuhkan alat pendingin udara, yang berarti butuh energi listrik yang besar. Apabila musim penghujan datang, karena atap emperan yang tinggi, tidak bisa beraktifitas di teras/balkon karena pasti akan terkena tempias air hujan. Tidak bisa lagi menikmati kopi panas dan pisang goreng di teras/balkon sambil menikmati hujan di luar.***2 Agustus 2014

DINDING BANGUNAN

Diterbitkan Harian JOGLOSEMAR, Minggu 6 Juli 2014.

Selama ini orang awam melihat dinding suatu bangunan hanya berfungsi sebagai pembagi atau pembatas antar ruang. Material yang digunakan pun biasanya berupa material dari bahan utama penyusun konstruksi bangunan tersebut, seperti dari bata tanah liat, bata beton, papan kayu, dan sebagainya.
Namun seiring dengan perkembangan teknologi material bangunan yang semakin bervariasi, ternyata juga berpengaruh pada fungsi dinding pada suatu bangunan.
Bila dikaji lebih lanjut, selain sebagai pembagi dan pembatas ruang dalam bangunan dan pembatas bangunan dengan lingkungan di sekitarnya, ternyata dinding juga dapat berfungsi sebagai bagian struktur yang menahan dan menyalurkan beban-baban di atasnya, berupa atap atau lantai-lantai di atasnya. Fungsi lain dinding diantaranya adalah a) dinding dapat memberikan fungsi stabilisasi bersama bagian konstruksi bangunan yang lain, terutama untuk menerima beban-baban horisontal (lateral) akibat terjadinya gempa atau angin yang cukup besar, b) dinding dapat memberikan privasi dan rasa aman nyaman bagi penghuninya di dalam bangunan maupun dari luar bangunan, c) untuk memodifikasi iklim mikro dalam bangunan dan menjaga suhu yang nyaman bagi penghuninya (lebih panas atau lebih dingin) dari lingkungan ruar bangunan, d) dinding dapat membantu proses menaikkan dan menurunkan kelembaban relatif ruangan, e) mengatur sirkulasi udara dalam ruangan, dan f) mengatur kekedapan suara yang keluar atau masuk pada bangunan tersebut, serta g) melokalisir panas atau rambatan api apabila terjadi kebakaran pada bangunan atau ruang tertentu.
Sesuai dengan peruntukkannya, dinding sendiri dapat dikategorikan atas dua hal, yakni berdasarkan beban yang bekerja padannya dan tipe konstruksi dinding. Berdasarkan beban yang bekerja, dinding dibagi atas dinding struktural, dinding stabiliser, dan dinding non-struktural.
Dinding struktural dimaksudkan bahwa dinding yang dibangun mempunyai fungsi juga sebagai pemikul beban vertikal di atasnya, selain menahan berat sendirinya. Dinding stabiliser diperlukan untuk ikut menahan beban horisontal dan miring pada bangunan, dan tentunya juga berfungsi menahan beban vertikal dan berat sendiri dinding. Sedangkan dinding non-struktural direncanakan hanya menerima beban berat sendirinya, tidak untuk menahan beban yang lain dalam bangunan.
Berdasarkan tipe konstruksinya, dinding dibedakan atas : dinding unitised (satuan), dinding homogen, dan dinding rangka.
Dinding unitised merupakan dinding yang terbuat dari pasangan bata atau blok batako yang saling direkatkan (dengan spesi) dan diperkuat dengan tulangan untuk menghindari retakan atau perlemahan struktur.
Dinding homogen merupakan dinding yang terbuat dari bahan yang plastis dan dikeringkan atau dibakar seperti tanah liat atau beton yang diperkuat dengan serat-serat alami atau anyaman kawat/tulangan baja, atau tulangan dari kayu dan bambu.
Sedangkan dinding rangka, terbuat dari konstruksi rangkan kayu/bambu, baja, beton atau aluminium yang kemudian ditutup dengan pelat kayu, panel beton, baja atau material lain.
Yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dinding berdasarkan tipe struktur adalah ketahanannya yang untuk menerima beban lentur yang tegak lurus dinding dan ketahanan terhadap beban geser searah penampang dinding. Untuk itu diperlukan bresing-bresing atau tulangan-tulangan disesuaikan dengna tipe struktur dinding.
Oleh karenanya pada perencanaan dinding harus memenuhi beberapa persyaratan stabilitas diantaranya yaitu stabilitas struktur, stabilitas lingkungan, stabilitas dimensi dan ketahan terhadap api/kebakaran.
Stabilitas struktur dinding dikaitkan dengan fungsi yang akan dicapai meliputi stabilitas dalam hal ketahanan terhadap beban-beban luar, tekuk, dan benturan. Stabilitas terhadap lingkungan meliputi kontrol terhadap ketahanan cuaca, ketahanan terhadap pergerakan angin, ketahanan terhadap suhu, ketahanan terhadap suara, dan ketahanan terhadap serangan kimiawi.
Stabilitas terhadap api atau kebakaran meliputi seberapa besar nilai kemudahan dapat terbakar (combustability) material dinding, ketahanan rambat panas, dan kekedapan terhadap api.
Stabilitas dimensi meliputi meliputi ketahanan yang berkaitan dengan kualitas dan performa material yang digunakan sebagai dinding untuk memenuhi stabilitas-stabilitas di atas.
Berkaitan dengan fungsi dan persyaratan stabilisasi dinding yang akan dibangun, maka cukup penting untuk mengetahui karakteristik material dinding yang akan digunakan sesuai dengan standar-standar performa yang digunakan.***

Dipublikasi di ARTIKEL, PUBLIKASI

PERAWATAN KAYU

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

(diterbitkan harian JOGLOSEMAR, Minggu 15 September 2013)

wood

Kayu merupakan material bangunan yang rentan terhadap kondisi lingkungan baik cuaca maupun serangan serangga, apabila tidak dilakukan pengolahan dan perawatan yang benar sebelum dan saat digunakan sebagai material bangunan.
Sebelum digunakan kayu harus diolah sedemikian rupa sehingga penyusutannya harus memenuhi syarat dan lebih tahan terhadap serangan rayap, kumbang, atau serangga lainnya yang memakan atau menggerogoti kayu, serta pelapukan oleh jamur.
Kayu terbentuk dari tiga unsur utama yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin serta unsur tambahan yaitu zat ekstraktif dan zat silika. Selulosa merupakan zat utama pembentuk dinding sel kayu yang merupakan makanan utama bagi rayap. Lignin berfungsi sebagai pengikat antar dinding sel kayu. Hemiselulosa berfungsi sebagai pendukung selulosa untuk membentuk matrik dinding sel. Zat ekstraktif merupakan faktor yang menentukan tingkat keawetan alami kayu, sedangkan zat silika menentukan tingkat kekerasan alami kayu. Zat ekstraktif yang semakin beracun akan mengakibatkan tingkat keawetan alami kayu semakin tinggi. Kandungan silika yang tinggi mengakibatkan kekerasan pada kayu. Kualitas kayu dipengaruhi oleh jenis kayu, berat jenis kayu, umur, posisi kayu di dalam batang, dan musimpenebangan kayu.
Beberapa jenis kayu yang memiliki keunggulan dalam hal kekuatan, keawetan, dan kemudahan pengerjaannya sejak dulu sering digunakan sepertik kayu jati (Tectona grandi), kayu ulin (Eusideron zwageri), kayu bayam, kayu besi atau merbau (Intsia bijuga), dan lain sebagainya. Hal itu juga dapat dilihat di beberapa bangunan masa lampau dari konstruksi kayu seperti masjid, keraton, rumah adat, ornamen, patung, dan lainnya yang sebagian dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya.
Namun demikian, hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kayu cepat atau lambat akan mengalami proses kerusakan dan pelapukan. Oleh karena itu kayu perlu perawatan dan pengawetan agar kayu tidak cepat menjadi rusak dan lapuk, sehingga umurnya menjadi lebih lama.
Oleh karena itu kayu perlu mendapatkan perawatan yang baik selama umur bangunan, sehingga kualitasnya tetap terjaga. Menurut petunjuk teknis perawatan kayu yang dikeluarkan oleh Direktorat Peninggalan Purbakala, maka proses perawatan kayu dapat dilakukan melalui dua tahap, yaitu sebelum pelaksanaan perawatan dan saat perawatan. Hal ini dikarenakan sebelum perawatan, kondisi kayu yang sebenaranya harus dikaji terlebih dahulu, sehingga penanganan perawatan yang dilakukan tidak mengalami kekeliruan.
Kegiatan awal sebelum perawatan adalah dengan melakukan observasi terhadap material kayu yang digunakan, meliputi pemeriksaan morfologi, kilap, tekstur dan struktur kayu, pemeriksaan kerusakan dan pelapukan, pemeriksaan kondisi permukaan, kondisi lingkungan dan kemungkinan munculnya serangga perusak.
Pemeriksaan kerusakan dan pelapukan harus secara detail menggambarkan kondisi kilap kayu, perubahan warna dan bentuk, adanya retakan, pecahan, pembelahan, keropos, lapuk, busuk, atau pelunakan kayu.
Setelah semua terobservasi dengan baik, maka langkah berikutnya adalah menentukan rancangan perawatan sesuai dengan kaidah-kaidah teknis. Kegiatan perawatan ini pada dasarnya meliputi perawatan preventif (pencegahan) dan perawatan kuratif.
Perawatan preventif dimaksudkan untuk mencegah terjadinya proses kerusakan dan pelapukan kayu. Perawat pencegahan dapat dilakukan dengan dua cara, yakni perawatan rutin dan pengendalian kondisi klimatologi di lingkungan mikro dan makro.
Sedangkan perawatan kuratif dimaksudkan untuk menanggulangi segala permasalahan kerusakan dan pelapukan kayu. Perawatan kuratif terdiri atas perawatan tradisional dan perawatan modern. Perbedaan kedua jenis perawatan kuratif tersebut tidak begitu menonjol, hanya sebatas peralatan dan cara yang digunakan. Disamping itu, perawatan modern sudah menggunakan berbagai macam pembersiah mekanis kering dan kimiawi.
Pembersihan kimiawi, biasanya digunakan alkohol, aceton, toluol, ethyl acetate, atau bahan pembersih cat khusus neorever, dan kertas pH.***

Dipublikasi di PUBLIKASI

KONSUMSI ENERGI PADA BANGUNAN

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

(artikel diterbitkan harian JOGLOSEMAR, Minggu 8 September 2013)
Hasil perhitungan konsumsi energi di dunia ternyata menyebutkan bahwa bangunan memerlukan konsumsi energi sekitar 40% dari total konsumsi energi. Sisanya dibagi hampir sama untuk industri dan transportasi. Hal ini yang menyebabkan perhatian serius untuk segera direduksi penggunaan energi pada bangunan. Bahkan Uni Eropa pun menargetkan untuk mengurangi konsumsi energi sampai sekitar 22% berdasarkan Protokol Kyoto. Pengurangan ini juga diharapkan dapat mengurangi efek rumah kaca sebesar 8% pada tahun 2012 kemarin. Indonesia pun mengupayakan hal ini dengan mendukung terciptanya bangunan hijau (green building) yang diawali dengan beberapa kota besar dengan mensyaratkan perhitungan konsumsi energi yang menyeluruh pada suatu bangunan baik pada saat pembangunan maupun saat operasional.
Upaya tersebut diantaranya dengan membatasi pemakaian air conditioner (AC) dimana tidak hanya penggunaan untuk pemanas pada musim dingin, tapi juga pendingin pada musim panas. Data dari Diekmann, umumnya 60% dari total penggunaan energi pada bangunan (kantor) dapat dibedakan untuk AC sekitar 32%, penerangan 20%, pemanas air 5% dan peralatan elektronik lainnya sekitar 5%. Demikian halnya di Indonesia, penggunaan AC dan pencahayaan harus mulai dibatasi, diganti dengan desain-dasain bangunan yang mengoptimalkan kenyamanan dan pencahayaan bangunan yang alami.
Desain bangunan hendaknya juga memperhitungkan pola sirkulasi udara dan pencahayaan yang memadai pada saat operasional atau penggunaan. Penggunaan AC yang serampangan mestinya dihindari. Kantor-kantor pemerintah, sekolah dan bangunan publik lainnya yang saat ini hampir menggantungkan pada pemakaian AC untuk menciptakan kenyamanan tentunya harus segera dikurangi. Pemerintah mestinya memberikan contoh nyata dalam penghematan konsumsi energi ini.
Tentunya permasalahan konsumsi energi ini, pada tahun-tahun mendatang akan semakin bertambah walaupun upaya penghematan terus dilakukan. Konsumsi energi pada tahun 2020 dapat meningkat hampir 50%. Persyaratan ketat untuk konsumsi energi bagi bangunan baru menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi. Ijin mendirikan bangunan harus mengikutsertakan evaluasi konsumsi energi bangunan, sesuai dengan kapasitas dan fungsi bangunan yang akan didirikan.
Pada bangunan perumahan pun saat ini penggunaan penyejuk udara (AC) mengalami peningkatan yang cukup besar. Hampir perumahan menengah ke atas saat ini sudah terpasang AC lebih dari satu, dengan rata-rata konsumsi daya 350 Watt ke atas. Di Eropa memang karena iklimnya dominan dingin, justru konsumsi energi banyak digunakan untuk pemanas. Yang menarik adalah disamping penggunaan pemanas, di Eropa sekarang banyak dikembangkan material bangunan perumahan yang dapat mereduksi perambatan iklim dan udara dingin di luar bangunan perumahan. Juga penggunaan ventilasi-ventilasi yang dapat menahan masuknya udara dingin secara langsung ke dalam rumah.
Bila dihitung lebih mendetail, kebutuhan energi per orang per tahun idealnya sekitar 250 sampai 1750 kWh, tergantung dari pola konsumsi pada bangunan atau perumahan. Sedangkan untuk rumah tangga berkisar 3600 kWh.
Namun demikian, memang konsumsi energi pada suatu bangunan atau perumahan sangat bergantung pada pola hidup dan penggunaan bangunan itu sendiri. Sebagian besar operasional bangunan saat ini bergantung pada konsumsi energi listrik. Walaupun untuk pola kebutuhan biaya hidup, konsumsi energi ini penyerapannya masih berkisar antara 5-20% dari total biaya kebutuhan tiap bulan.***