DINDING BANGUNAN

Diterbitkan Harian JOGLOSEMAR, Minggu 6 Juli 2014.

Selama ini orang awam melihat dinding suatu bangunan hanya berfungsi sebagai pembagi atau pembatas antar ruang. Material yang digunakan pun biasanya berupa material dari bahan utama penyusun konstruksi bangunan tersebut, seperti dari bata tanah liat, bata beton, papan kayu, dan sebagainya.
Namun seiring dengan perkembangan teknologi material bangunan yang semakin bervariasi, ternyata juga berpengaruh pada fungsi dinding pada suatu bangunan.
Bila dikaji lebih lanjut, selain sebagai pembagi dan pembatas ruang dalam bangunan dan pembatas bangunan dengan lingkungan di sekitarnya, ternyata dinding juga dapat berfungsi sebagai bagian struktur yang menahan dan menyalurkan beban-baban di atasnya, berupa atap atau lantai-lantai di atasnya. Fungsi lain dinding diantaranya adalah a) dinding dapat memberikan fungsi stabilisasi bersama bagian konstruksi bangunan yang lain, terutama untuk menerima beban-baban horisontal (lateral) akibat terjadinya gempa atau angin yang cukup besar, b) dinding dapat memberikan privasi dan rasa aman nyaman bagi penghuninya di dalam bangunan maupun dari luar bangunan, c) untuk memodifikasi iklim mikro dalam bangunan dan menjaga suhu yang nyaman bagi penghuninya (lebih panas atau lebih dingin) dari lingkungan ruar bangunan, d) dinding dapat membantu proses menaikkan dan menurunkan kelembaban relatif ruangan, e) mengatur sirkulasi udara dalam ruangan, dan f) mengatur kekedapan suara yang keluar atau masuk pada bangunan tersebut, serta g) melokalisir panas atau rambatan api apabila terjadi kebakaran pada bangunan atau ruang tertentu.
Sesuai dengan peruntukkannya, dinding sendiri dapat dikategorikan atas dua hal, yakni berdasarkan beban yang bekerja padannya dan tipe konstruksi dinding. Berdasarkan beban yang bekerja, dinding dibagi atas dinding struktural, dinding stabiliser, dan dinding non-struktural.
Dinding struktural dimaksudkan bahwa dinding yang dibangun mempunyai fungsi juga sebagai pemikul beban vertikal di atasnya, selain menahan berat sendirinya. Dinding stabiliser diperlukan untuk ikut menahan beban horisontal dan miring pada bangunan, dan tentunya juga berfungsi menahan beban vertikal dan berat sendiri dinding. Sedangkan dinding non-struktural direncanakan hanya menerima beban berat sendirinya, tidak untuk menahan beban yang lain dalam bangunan.
Berdasarkan tipe konstruksinya, dinding dibedakan atas : dinding unitised (satuan), dinding homogen, dan dinding rangka.
Dinding unitised merupakan dinding yang terbuat dari pasangan bata atau blok batako yang saling direkatkan (dengan spesi) dan diperkuat dengan tulangan untuk menghindari retakan atau perlemahan struktur.
Dinding homogen merupakan dinding yang terbuat dari bahan yang plastis dan dikeringkan atau dibakar seperti tanah liat atau beton yang diperkuat dengan serat-serat alami atau anyaman kawat/tulangan baja, atau tulangan dari kayu dan bambu.
Sedangkan dinding rangka, terbuat dari konstruksi rangkan kayu/bambu, baja, beton atau aluminium yang kemudian ditutup dengan pelat kayu, panel beton, baja atau material lain.
Yang perlu diperhatikan dalam pemilihan dinding berdasarkan tipe struktur adalah ketahanannya yang untuk menerima beban lentur yang tegak lurus dinding dan ketahanan terhadap beban geser searah penampang dinding. Untuk itu diperlukan bresing-bresing atau tulangan-tulangan disesuaikan dengna tipe struktur dinding.
Oleh karenanya pada perencanaan dinding harus memenuhi beberapa persyaratan stabilitas diantaranya yaitu stabilitas struktur, stabilitas lingkungan, stabilitas dimensi dan ketahan terhadap api/kebakaran.
Stabilitas struktur dinding dikaitkan dengan fungsi yang akan dicapai meliputi stabilitas dalam hal ketahanan terhadap beban-beban luar, tekuk, dan benturan. Stabilitas terhadap lingkungan meliputi kontrol terhadap ketahanan cuaca, ketahanan terhadap pergerakan angin, ketahanan terhadap suhu, ketahanan terhadap suara, dan ketahanan terhadap serangan kimiawi.
Stabilitas terhadap api atau kebakaran meliputi seberapa besar nilai kemudahan dapat terbakar (combustability) material dinding, ketahanan rambat panas, dan kekedapan terhadap api.
Stabilitas dimensi meliputi meliputi ketahanan yang berkaitan dengan kualitas dan performa material yang digunakan sebagai dinding untuk memenuhi stabilitas-stabilitas di atas.
Berkaitan dengan fungsi dan persyaratan stabilisasi dinding yang akan dibangun, maka cukup penting untuk mengetahui karakteristik material dinding yang akan digunakan sesuai dengan standar-standar performa yang digunakan.***

PERAWATAN KAYU

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

(diterbitkan harian JOGLOSEMAR, Minggu 15 September 2013)

wood

Kayu merupakan material bangunan yang rentan terhadap kondisi lingkungan baik cuaca maupun serangan serangga, apabila tidak dilakukan pengolahan dan perawatan yang benar sebelum dan saat digunakan sebagai material bangunan.
Sebelum digunakan kayu harus diolah sedemikian rupa sehingga penyusutannya harus memenuhi syarat dan lebih tahan terhadap serangan rayap, kumbang, atau serangga lainnya yang memakan atau menggerogoti kayu, serta pelapukan oleh jamur.
Kayu terbentuk dari tiga unsur utama yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin serta unsur tambahan yaitu zat ekstraktif dan zat silika. Selulosa merupakan zat utama pembentuk dinding sel kayu yang merupakan makanan utama bagi rayap. Lignin berfungsi sebagai pengikat antar dinding sel kayu. Hemiselulosa berfungsi sebagai pendukung selulosa untuk membentuk matrik dinding sel. Zat ekstraktif merupakan faktor yang menentukan tingkat keawetan alami kayu, sedangkan zat silika menentukan tingkat kekerasan alami kayu. Zat ekstraktif yang semakin beracun akan mengakibatkan tingkat keawetan alami kayu semakin tinggi. Kandungan silika yang tinggi mengakibatkan kekerasan pada kayu. Kualitas kayu dipengaruhi oleh jenis kayu, berat jenis kayu, umur, posisi kayu di dalam batang, dan musimpenebangan kayu.
Beberapa jenis kayu yang memiliki keunggulan dalam hal kekuatan, keawetan, dan kemudahan pengerjaannya sejak dulu sering digunakan sepertik kayu jati (Tectona grandi), kayu ulin (Eusideron zwageri), kayu bayam, kayu besi atau merbau (Intsia bijuga), dan lain sebagainya. Hal itu juga dapat dilihat di beberapa bangunan masa lampau dari konstruksi kayu seperti masjid, keraton, rumah adat, ornamen, patung, dan lainnya yang sebagian dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya.
Namun demikian, hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kayu cepat atau lambat akan mengalami proses kerusakan dan pelapukan. Oleh karena itu kayu perlu perawatan dan pengawetan agar kayu tidak cepat menjadi rusak dan lapuk, sehingga umurnya menjadi lebih lama.
Oleh karena itu kayu perlu mendapatkan perawatan yang baik selama umur bangunan, sehingga kualitasnya tetap terjaga. Menurut petunjuk teknis perawatan kayu yang dikeluarkan oleh Direktorat Peninggalan Purbakala, maka proses perawatan kayu dapat dilakukan melalui dua tahap, yaitu sebelum pelaksanaan perawatan dan saat perawatan. Hal ini dikarenakan sebelum perawatan, kondisi kayu yang sebenaranya harus dikaji terlebih dahulu, sehingga penanganan perawatan yang dilakukan tidak mengalami kekeliruan.
Kegiatan awal sebelum perawatan adalah dengan melakukan observasi terhadap material kayu yang digunakan, meliputi pemeriksaan morfologi, kilap, tekstur dan struktur kayu, pemeriksaan kerusakan dan pelapukan, pemeriksaan kondisi permukaan, kondisi lingkungan dan kemungkinan munculnya serangga perusak.
Pemeriksaan kerusakan dan pelapukan harus secara detail menggambarkan kondisi kilap kayu, perubahan warna dan bentuk, adanya retakan, pecahan, pembelahan, keropos, lapuk, busuk, atau pelunakan kayu.
Setelah semua terobservasi dengan baik, maka langkah berikutnya adalah menentukan rancangan perawatan sesuai dengan kaidah-kaidah teknis. Kegiatan perawatan ini pada dasarnya meliputi perawatan preventif (pencegahan) dan perawatan kuratif.
Perawatan preventif dimaksudkan untuk mencegah terjadinya proses kerusakan dan pelapukan kayu. Perawat pencegahan dapat dilakukan dengan dua cara, yakni perawatan rutin dan pengendalian kondisi klimatologi di lingkungan mikro dan makro.
Sedangkan perawatan kuratif dimaksudkan untuk menanggulangi segala permasalahan kerusakan dan pelapukan kayu. Perawatan kuratif terdiri atas perawatan tradisional dan perawatan modern. Perbedaan kedua jenis perawatan kuratif tersebut tidak begitu menonjol, hanya sebatas peralatan dan cara yang digunakan. Disamping itu, perawatan modern sudah menggunakan berbagai macam pembersiah mekanis kering dan kimiawi.
Pembersihan kimiawi, biasanya digunakan alkohol, aceton, toluol, ethyl acetate, atau bahan pembersih cat khusus neorever, dan kertas pH.***

KONSUMSI ENERGI PADA BANGUNAN

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

(artikel diterbitkan harian JOGLOSEMAR, Minggu 8 September 2013)
Hasil perhitungan konsumsi energi di dunia ternyata menyebutkan bahwa bangunan memerlukan konsumsi energi sekitar 40% dari total konsumsi energi. Sisanya dibagi hampir sama untuk industri dan transportasi. Hal ini yang menyebabkan perhatian serius untuk segera direduksi penggunaan energi pada bangunan. Bahkan Uni Eropa pun menargetkan untuk mengurangi konsumsi energi sampai sekitar 22% berdasarkan Protokol Kyoto. Pengurangan ini juga diharapkan dapat mengurangi efek rumah kaca sebesar 8% pada tahun 2012 kemarin. Indonesia pun mengupayakan hal ini dengan mendukung terciptanya bangunan hijau (green building) yang diawali dengan beberapa kota besar dengan mensyaratkan perhitungan konsumsi energi yang menyeluruh pada suatu bangunan baik pada saat pembangunan maupun saat operasional.
Upaya tersebut diantaranya dengan membatasi pemakaian air conditioner (AC) dimana tidak hanya penggunaan untuk pemanas pada musim dingin, tapi juga pendingin pada musim panas. Data dari Diekmann, umumnya 60% dari total penggunaan energi pada bangunan (kantor) dapat dibedakan untuk AC sekitar 32%, penerangan 20%, pemanas air 5% dan peralatan elektronik lainnya sekitar 5%. Demikian halnya di Indonesia, penggunaan AC dan pencahayaan harus mulai dibatasi, diganti dengan desain-dasain bangunan yang mengoptimalkan kenyamanan dan pencahayaan bangunan yang alami.
Desain bangunan hendaknya juga memperhitungkan pola sirkulasi udara dan pencahayaan yang memadai pada saat operasional atau penggunaan. Penggunaan AC yang serampangan mestinya dihindari. Kantor-kantor pemerintah, sekolah dan bangunan publik lainnya yang saat ini hampir menggantungkan pada pemakaian AC untuk menciptakan kenyamanan tentunya harus segera dikurangi. Pemerintah mestinya memberikan contoh nyata dalam penghematan konsumsi energi ini.
Tentunya permasalahan konsumsi energi ini, pada tahun-tahun mendatang akan semakin bertambah walaupun upaya penghematan terus dilakukan. Konsumsi energi pada tahun 2020 dapat meningkat hampir 50%. Persyaratan ketat untuk konsumsi energi bagi bangunan baru menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi. Ijin mendirikan bangunan harus mengikutsertakan evaluasi konsumsi energi bangunan, sesuai dengan kapasitas dan fungsi bangunan yang akan didirikan.
Pada bangunan perumahan pun saat ini penggunaan penyejuk udara (AC) mengalami peningkatan yang cukup besar. Hampir perumahan menengah ke atas saat ini sudah terpasang AC lebih dari satu, dengan rata-rata konsumsi daya 350 Watt ke atas. Di Eropa memang karena iklimnya dominan dingin, justru konsumsi energi banyak digunakan untuk pemanas. Yang menarik adalah disamping penggunaan pemanas, di Eropa sekarang banyak dikembangkan material bangunan perumahan yang dapat mereduksi perambatan iklim dan udara dingin di luar bangunan perumahan. Juga penggunaan ventilasi-ventilasi yang dapat menahan masuknya udara dingin secara langsung ke dalam rumah.
Bila dihitung lebih mendetail, kebutuhan energi per orang per tahun idealnya sekitar 250 sampai 1750 kWh, tergantung dari pola konsumsi pada bangunan atau perumahan. Sedangkan untuk rumah tangga berkisar 3600 kWh.
Namun demikian, memang konsumsi energi pada suatu bangunan atau perumahan sangat bergantung pada pola hidup dan penggunaan bangunan itu sendiri. Sebagian besar operasional bangunan saat ini bergantung pada konsumsi energi listrik. Walaupun untuk pola kebutuhan biaya hidup, konsumsi energi ini penyerapannya masih berkisar antara 5-20% dari total biaya kebutuhan tiap bulan.***

PRODUK MATERIAL BERBASIS KAYU

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

 Dimuat di Harian JOGLOSEMAR, Minggu 5 Januari 2014


Pemanfaatan kayu gelondongan (utuh) dari hasil hutaan saat ini sudah mulai mencapai keterbatasan, dikarenakan oleh ketersediaannya yang semakin menipis. Sehingga, dilakukan upaya-upaya untuk pemanfaatan kayu dengan maksimal dan penggunaan kayu alternatif/kayu cepat tumbuh yang sekarang mulai banyak dikembangkan. Upaya tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan berbagai produk material yang basis utamanya adalah kayu. Fungsi utama material kayu tetap menjadi hal yang menentukan, baik untuk fungsi struktural maupun non-struktural, interior maupun eksterior.

Dalam istilah industri, pemanfaatan ini dikenal dengan produk material komposit berbasis kayu. Istilah material komposit disini dimaksudkan sebagai komponen kayu (berupa serat, serbuk, veneer/lembaran, papan) yang direkatkan satu sama lain dengan perekat (adhesive). Material komposit berbasis kayu ini dapat berupa papan serat (fibreboard), papan partikel (particleboard), sampai balok laminasi (laminated beam). Tampak bahwa material komposit berbasis kayu dapat memanfaatkan semua jenis dan tipe kayu, baik itu kayu hasil residu penebangan, daur ulang kayu, serat kayu, kayu diameter kecil, dan sebagainya.

Secara umum, menurut Maloney, produk material komposit berbasis kayu ini dibagai atas 4 kategori yaitu 1) material berbasis veneer (plywood, laminated veneer leumber/LVL, parallel strand lumber/PSL), 2) material laminasi (glued laminated timber, overlayde materials, komposit kayu-non kayu laminasi, multiwood composite), 3) material komposit (papan serat, papan serat selulosa, hardboard, papan partikel, waferboard, flakeboard, oriented strand board, laminated strand lumber, oriented strand lumber), 4) Komposit kayu-non kayu (komposit serat kayu-polimer, inorganic-bonded composite).

Secara konvensional, pembuatan material komposit berbasis kayu ini dilakukan dengan sedikit sekali menggukan perekat (resin) dan bahan tambahnya. Sekitar 90% atau lebih dari massa material komposit merupakan komponen kayu, sisanya merupakan perekat (adhesive). Perekat yang digunakan umumnya adalah phenol formaldehyde (PF), urea formaldehyde (UF), melamine formaldehyde (MF), isocyanates, dan perekat bio-based.

Perekat phenol formaldhyde (PF) banyak digunakan untuk proses perekatan material berbasis kayu yang akan digunakan pada panel eksterior, konstruksi yang langsug berhubungan dengan cuaca. Sedangkan perekat UF banyak digunakan untuk material komposit yang akan digunakan dalam ruangan (interior). Perekat MF digunakan untuk merekatkan panel-panel interior atau laminasi dekonratif, lem kertas dan sebagainya. Perekat MF relatif lebih mahal dibandingkan perekat PF, dan seringnya digunakan bersamaan/dicampur dengan perekat UF. Perekat isocyanates lebih banyak digunakan sebagai pengganti penggunaan perekat PF, sedangkan perekat berbasis bio saat ini mulai lebih banyak dikembangkan dan digunakan sebagai alternatif pengganti penggunaan perekat formaldehyde yang untuk jangka panjang tidak beaik untuk kesehatan. Perekat berbasis bio dapat dihasilkan dari biji-bijian dan lignin dengan pengolahan khusus.

Zat tambahan juga banyak digunakan seperti wax, yang dimaksudkan untuk membuat perekat lebih tahan terhadap air atau tidak menyerap air. Hal ini diperlukan juga untuk membuat material kayu lebih stabil pada kondisi lingkungan yang lembab.

Plywood merupakan sebuah produk panel yang dibuat dari lembaran-lembaran (veneer) yang umum disebut dengan plies (ply). Plywood  paling banyak dijual di pasaran. Lembaran-lembaran tersebut disusun dan direkatkan saling tegak lurus. Lembaran muka dan belakang harus mempunyai arah serat yang sama. Sehingga, mensyarakan jumlah lembaran pada plywood adalah ganjil (odd). Tripleks adalah salah satu tipe plywood.

Oriented strandboard (OSB) adalah produk berbasis kayu yang terdiri atas strand tipis kayu yang direkatkan satu sama lain dengan perekat dan resin anti air. Terkadang banyak digunakan untuk keperluan struktural. Umumnya terbuat atas tiga lapis strand.

Papan partikel banyak digunakan untuk keperluan papan panel dinding, mebelair (meja, almari) dan sebagainya. Papan partikel dibuat dari partikel-partikel kayu yang direkatkan, kemudian dipadatkan dengan panas dan tekanan.

Sedangkan papan fiber terbuat atas serat-serat kayu yang direkatkan satu sama lain dan dipadatkan. Yang paling banyak dijual di pasaran adalah tipe MDF atau middle-density fibre board. MDF dapat dibuat dalam proses kering dan basah.***

PENGERINGAN KAYU

 

 

Salah satu massteamheater.blogspot.comalah penting dalam pengolahan kayu sebelum digunakan sebagai bahan/material konstruksi, mebel atau pembuatan material berbahan dasar kayu adalah masalah pengeringan kayu. Setelah penebangan tanaman kayu, log kayu masih mengandung air yang relatif besar. Kandungan air pada kayu sangat mempengaruhi karakteristik kayu.

Pengeringan kayu ini bertujuan untuk mengeluarkan air dari dalam kayu hingga mencapai kadar air yang seimbang dengan lingkungan, dimana kayu akan digunakan, tanpa menurunkan kualitas kayu tersebut. Pengeringan kayu dapat dilakukan dengan dua cara yakni secara alami dan menggunakan alat pengering/penguap.

Pengeringan secara alami dilakukan dengan menjemur di bawah panas sinar matahari atau mengangin-anginkan pada suhu ruang. Kandungan air dalam kayu secara perlahan akan menguap menyesuaian dengan kondisi lingkungan. Terkadang pengeringan alami ini membutuhkan waktu yang lebih lama, tergantung pada kondisi cuaca. Sedangkan pengeringan dengan menggunakan alat pengering, membutuhkan ruangan khusus yang suhu (panas) ruangannya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan kecepatan pengeringan kayu.

Proses penguapan air atau pengeringan ini tentu harus dikontrol dengan baik karena akan sangat mempengaruhi kondisi fisik material kayu. Beberapa keuntungan dari proses pengeringan kayu yang baik adalah a) pada pengeringan dengan kadar air tertentu dapat menghindarkan kayu dari tumbuhnya jamur, b) dapat menstabilkan dimensi kayu, tidak mengalami susut dan mengembang yang berlebihan, retak ataupun pecah, c) warna kayu menjadi lebih cerah, d) dapat meningkatkan rendemen kayu yang berkualitas baik, d) memudahkan dalam melakukan pengecatan dan finishing kayu. Apabila tidak dikontrol dengan baik, seperti terjadinya penyusutan atau perubahan dimensi kayu yang cukup drastis. Bahkan beberapa kasus dapat menyebabkan terjadinya retakan-retakan antar serat kayu, atau terjadinya puntiran (atau ngulet dalam bahasa Jawa).

Pengeringan harus dilakukan untuk mencapai kadar air yang seimbang, yaitu kadar air dimana kayu tidak akan mengeluarkan atau menyerap air dari lingkungan sekitarnya. Kadar air yang diinginkan tentunya disesuaikan dengan tujuan pemakaian material kayu nantinya, apakah dalam kondisi lingkungan dengan kelembaban lingkungan tinggi atau rendah, dalam lingkungan yang langsung berhubungan dengan cuaca atau tidak.

Kayu untuk kemasan dan alat musik umumnya mensyaratkan kadar air berkisar 5% – 10%, termasuk kayu yang digunakan pada lingkungan dengan pemanas di sekitarnya. Sehingga setelah digunakan kayu tidak akan mengalami penyusutan yang lebih besar. Sedangkan untuk kusen pintu, jendela mebel dalam ruangan berkisar antara 10% – 16%. Umumnya untuk menghindari timbulnya jamur dan bubuk/serangga kayu basah, kadar air yang disyaratkan maksimal sebesar 20%. Kadar air keseimbangan ini juga dipengaruhi kondisi kelembaban lingkungan geografis tempat kayu berada. Beberapa kota di Indonesia mempunyai kelembaban yang berbeda-beda, umumnya berkisar antara 10% – 19%.

Pada pengeringan kayu menggunakan ruangan khusus pengering, maka hal yang harus diperhatikan adalah bahwa ruangan harus tersedia energi panas yang cukup sesuai dengan kapasitasnya, dan sirkulasi udara yang baik untuk meratakan panas ke selurah permukaan kayu, serta ketepatan susunan penumpukan kayu dalam ruangan.

Penumpukan kayu yang baik dilakukan terlebih dahulu untuk kayu dengan ketebalan yang sama, pengganjal penumpuk kayu sebaiknya dari jenis kayu yang sama. Setelah itu, peningkatan suhu (panas) yang didistribusikan dalam ruangan harus dilakukan secara bertahap. Pada awal pengeringan dapat digunakan suhu sekitar 40-500C disesuaikan dengan jenis dan kondisi kayu. Ketahanan kayu terhadap panas juga perlu diperhatikan, apabila tahan panas, maka setelah kadar air mencapai sekitar 20%, maka suhu dapat dinaikkan sampai 800C atau lebih. Pemantauan setiap saat mutlak dilakukan agar pengeringan dapat terkontrol dengan baik. Dapat pula dilakukan pengambilan sampel/contoh selama proses pengeringan untuk mengetahui kelembaban dan kadar airnya. Pengukuran kadar air ini, dapat dilakukan dengan menggunakan alat secara langsung, atau dibandingkan juga dengan pengukuran menggunakan neraca dan oven. Proses pengeringan dihentikan setelah kayu mencapai kadar air yang diinginkan.

Disamping itu, hal yang juga penting dalam proses pengeringan kayu ini adalah proses penyimpanan kayu yang telah dikeringkan di dalam gudang. Penumpukan di gudang harus dijaga agar kelembabannya stabil sehingga tidak meningkatkan penyerapan air kembali ke dalam kayu.***

SISTEM ALARM PADA BANGUNAN GEDUNG

Oleh : Achmad Basuki, ST., MT.

 Dimuat di harian JOGLOSEMAR, Minggu 10 Nopember 2013

  agenpemadam.amare.co.id

Sistem alarm pada bangunan dimaksudkan untuk memberikan peringatan dini pada penghuni bangunan berkaitan dengan hal-hal yang terjadi pada bangunan seperti kebakaran, getaran gempa (vulkanik atau tektonik), bahaya tsunami, , keamanan dan kekuatan elemen struktur.

Sistem alarm ini dapat pula diintegrasikan atau dipisahkan dengan sistem alarm yang menyangkut keamanan dan kenyamanan penghuninya, seperti ancaman pencurian dan perampokan, teror dan aksi kejahatan lainnya, radiasi bahan berbahaya (nuklir), dan emisi gas buang.

Penggunaan sistem alarm pada bangunan ini tentunya tidak terbatas hanya pada bangunan gedung/rumah, tapi juga bangunan yang menyangkut infrastruktur transportasi seperti jembatan, dan bangunaan infrastruktur keairan seperti dam, bendungan, tandon dan sebagainya.

Secara umum, sistem alarm terdiri atas 3 unsur yaitu unsur detektor, unsur sinyal tanda bahaya, dan unsur pengendali. Unsur detektor adalah piranti yang dapat mendeteksi beberapa isyarat dan tanda yang berkaitan dengan fenomena yang dideteksi. Misalkan detektor untuk bahaya kebakaran akan mendeteksi munculnya asap atau panas yang berlebihan dalam ruangan, atau detektor getaran gempa akan mendeteksi simpangan bangunan yang berlebihan akibat getaran gempa.

Informasi dan peringatan dini yang telah disampaikan sistem alarm ini diharapkan dapat memberikan reaksi bagi alat pengendali untuk bekerja secara otomatis atau memberitahu penghuni bangunan untuk mengaktifkan alat pengendali atau menyelamatkan diri atau meningkatkan kewaspadaan.

Sistem alarm pada bangunan gedung, terutama bangunan-bangunan publik seperti perkantoran, mall/supermarket, hotel, apartemen, gedung sekolah/kuliah dan sebagainya, umumnya memasang sistem alarm untuk kebakaran, sistem alarm keamanan. Sedangkan sistem alaram untuk getaran gempa umumnya dipasang pada bangunan gedung bertingkat tinggi, dan sistem alarm bahaya banjir biasanya dipasang pada bangunan-bangunan yang rawan terjadinya genangan banjir.

Pada sistem alarm bahaya kebakaran, apabila detektor asap dan panas yang berlebih ini memberikan sinyal yang akan diterima oleh panel induk pada ruang pengendali, dan seketika panel pengendali akan memberikan peringatan berupa lampu nyala tertentu disertai dengan bunyi sirine atau alarm, dan  secara otomatis akan menyalakan sprinkle yang akan menyemprotkan air di ruangan yang timpul asap atau panas yang berlebihan. Tentunya dengan peringatan dini ini penghuni dan petugas pengaman bangunan gedung akan segera melakukan upaya pemadaman kebakaran dengan peralatan pemadam kebaran yang sudah terintegrasi dengan bangunan gedung pada lokasi timbulnya api.

Bahkan ada pula sistem alarm kebakaran yang sudah terhubung dengan sistem alarm pada dinas pemadam kebakaran pada suatu kota. Sehingga, apabila terjadi kebakaran pada bangunan gedung tersebut maka tim pemadam kebakaran langsung meluncur ke lokasi.

Sedangkan detektor yang digunakan pada sistem alarm terhadap terjadinya bahaya gempa adalah detektor perpindahan atau simpangan yang ditempatkan pada beberapa titik sepanjang tinggi gedung. Apabila terjadi getaran gempa, maka bangunan akan ikut bergetar. Getaran (simpangan) bangunan gedung ini akan bergantung pada besar kecilnya getaran gempa. Getaran/simpangan bangunan ini pada setiap bangunan gedung sudah dibatasi sesuai dengan persyaratan bangunan dan ketinggian bangunan. Bila getaran/simpangan telah mencapai batas untuk evakuasi, maka alarm akan berbunyi dan proses evakuasi harus segera dilakukan.

Pada sistem alarm untuk pengamanan dari bahaya kejahatan, detektor sistem keamanan (security system) yang digunakan berupa detektor model sensor yaitu sensor ultrasonik, sensor gelombang mikro, sensor infra merah dan sensor suara suara. Masing-masing jenis sensor mempunyai keunggulan. Prinsipnya apabila ada benda bergerak, maka akan terjadi perubahan panjang gelombang yang dipancarkan. Sensor ultrasonik dan gelombang mikro termasuk dalam kategori sensor aktif, dibandingkan sensor infra merah yang hanya menangkap gelombang infra merah yang dihasilkan oleh tubuh manusia atau benda-benda panas yang mempunyai radiasi infra merah dan dapat dipasang sampai jarak 30 m.

Penggunaan  CCTV (closed circuit television) dan alat detektor logam pun saat ini telah menjadi bagian dari sistem alarm keamanan pada bangunan gedung.***